HOLOPIS.COM, JAKARTA – Gelombang penolakan terhadap keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam konflik Iran kian menguat. Bukan sekadar soal strategi militer, perang Iran kini berubah menjadi beban politik serius bagi Presiden AS Donald Trump di dalam negeri.
Hasil jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos menunjukkan mayoritas warga Amerika ingin pemerintah segera menarik diri dari konflik, bahkan jika tujuan awal belum tercapai. Temuan ini menegaskan adanya perubahan besar dalam sikap publik terhadap perang luar negeri.
Sebanyak 66% responden menyatakan bahwa AS harus mengakhiri keterlibatannya di Iran secepat mungkin. Meskipun harus mengorbankan target yang telah ditetapkan sebelumnya.
Sementara itu, hanya 27% yang tetap menginginkan seluruh tujuan dicapai, meski konflik harus berlangsung lebih lama. Enam persen lainnya tidak memberikan jawaban.
Trump Terus Tergerus
Di tengah meningkatnya tekanan publik, tingkat persetujuan terhadap kepemimpinan Trump juga menunjukkan tren penurunan. Survei Economist/YouGov terbaru mencatat hanya 37% warga Amerika yang menyatakan setuju dengan kinerja Trump, sementara 56% menyatakan tidak setuju.
Angka tersebut menghasilkan tingkat persetujuan bersih minus 18, memperpanjang tren negatif dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan, terakhir kali tingkat persetujuan Trump berada di atas minus 15 terjadi pada September 2025.
Penurunan ini mencerminkan ketidakpuasan luas masyarakat terhadap berbagai kebijakan pemerintah, termasuk dalam isu-isu strategis nasional maupun internasional.
Dari berbagai isu yang diuji dalam survei, penanganan konflik Iran menjadi salah satu titik terlemah Trump. Tingkat persetujuan bersih untuk isu ini tercatat minus 20—lebih buruk dibandingkan minggu sebelumnya yang berada di angka minus 13.
Penurunan tajam ini menunjukkan semakin banyak warga yang tidak percaya pada pendekatan Trump dalam menangani konflik tersebut.
Menariknya, pergeseran opini paling signifikan terjadi di kalangan pemilih independen—kelompok yang sering menjadi penentu dalam dinamika politik Amerika.
Jika sebelumnya 30% pemilih independen masih mendukung kebijakan Trump di Iran, kini angka tersebut turun menjadi 24%. Sebaliknya, tingkat penolakan melonjak dari 53% menjadi 63%, menghasilkan penurunan persetujuan bersih dari minus 23 menjadi minus 39.
Sementara itu, polarisasi politik tetap terlihat jelas. Hampir seluruh pemilih Partai Demokrat menolak kebijakan Trump terkait Iran, sedangkan mayoritas Partai Republik tetap memberikan dukungan.
Namun, perubahan sikap dari kelompok independen menjadi sinyal paling mengkhawatirkan bagi Trump.
Selain isu Iran, survei juga menunjukkan bahwa Trump tidak memperoleh persetujuan mayoritas dalam tujuh isu utama yang diuji. Bahkan pada isu dengan performa terbaiknya—penanganan kejahatan—Trump masih mencatat persetujuan bersih negatif, yakni minus 4 (43% setuju, 47% tidak setuju).
Isu lingkungan, hubungan ras, hingga penyelidikan terhadap Jeffrey Epstein justru mencatat tingkat persetujuan yang lebih rendah dibandingkan rata-rata kinerja keseluruhan Trump.
Data survei ini memperlihatkan satu pesan kuat yakni publik AS semakin lelah dengan konflik berkepanjangan, dan ketidakpuasan terhadap kebijakan luar negeri mulai berdampak langsung pada stabilitas politik domestik.
Jika tren ini berlanjut, perang Iran berpotensi menjadi titik balik bagi kepemimpinan Trump—bukan hanya dalam kebijakan luar negeri, tetapi juga dalam mempertahankan dukungan politik di dalam negeri.


