HOLOPIS.COM, JAKARTA – Wajah Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki tampak berbeda pada Sabtu malam itu. Suasana yang biasanya formal seketika berubah menjadi lebih cair dan penuh energi.
Alunan musik dangdut yang biasanya identik dengan panggung rakyat, kini bergema megah dalam balutan teater musikal modern bertajuk “Musikal Pasar Dangdoet: SEMESTA Berdendang”.
Pertunjukan garapan mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya ini berhasil menyihir penonton lewat tema “Diverse Artistry: The SEMESTA Glitz”. Panggung ini menjadi saksi perpaduan unik antara glamoritas dunia teater dan denyut nadi pasar tradisional.
Panggung dibuka dengan hiruk-pukuk kehidupan pasar yang dinamis namun terjepit di tengah modernitas kota. Penonton dibawa masuk ke dalam riuhnya transaksi dan interaksi sosial yang khas.
Pusat perhatian kemudian tertuju pada sosok Adeng. Ia digambarkan sebagai seorang pemuda yang terjebak dalam persimpangan batin yang cukup mendalam.
Adeng memiliki mimpi besar untuk menjadi seorang komika dan aktor sukses. Namun, ia harus berhadapan dengan harapan besar keluarganya untuk meneruskan usaha dagang di pasar.
Lewat arahan sutradara Andibachtiar Yusuf dan Dadang Badoet, konflik keseharian ini tidak hanya ditampilkan sebagai drama biasa. Pertunjukan ini menjadi refleksi sosial yang dibungkus dengan humor segar.
Kehadiran Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menambah bobot penting pada malam itu. Beliau tampak antusias mengikuti setiap babak pementasan yang disuguhkan para mahasiswa.
Wamen Ekraf memberikan apresiasi tinggi terhadap keberanian mahasiswa dalam mengangkat dangdut sebagai narasi budaya yang kuat. Ia menilai dangdut telah berhasil ditransformasikan menjadi identitas budaya yang modern.
Baginya, pementasan ini bukan sekadar tugas kampus, melainkan bukti nyata kegigihan generasi muda. Kreativitas semacam ini diyakini mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia.
Senada dengan hal tersebut, Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Hassan Wirajuda, menegaskan bahwa kegiatan seni seperti SEMESTA adalah bagian integral dari pembelajaran. Ia melihat keterkaitan erat antara dunia pendidikan dan sektor ekonomi kreatif.
Pementasan pun ditutup dengan sorak-sorai penonton yang terpukau. Karya ini menjadi contoh bagaimana kekayaan lokal mampu bertransformasi menjadi produk kreatif yang bernilai ekonomi tinggi tanpa kehilangan identitas bangsa.


