HOLOPIS.COM, JAKARTA – Wakil Presiden ke-6 Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Senin, pagi tadi. Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini, punya kenangan terhadap figur eks Panglima ABRI itu.
Ekonom senior itu mengenang Try Sutrisno sebagai seorang negarawan yang kritis dan nasionalis. Menurut dia, almarhum di masa tuanya terus menyemaikan semangat kebangsaan dan bahkan melakukan kritik terbuka.
Prof Didik mengingat momen saat bertemu almarhum Try. Meski tak bersahabat dekat, ia mengaku jika bertemu, Try selalu menepuk-nepuk punggungnya
Menurut dia, peristiwa itu terjadi berkali-kali di berbagai forum dengan Try yang selalu menyapa.
“Dugaan saya, pasti beliau mendengarkan kritik anak-anak muda di publik melalui media massa pada tahun 1990-an sehingga memperhatikan siapa yang sering tampil di publik menyampaikan gagasan,” kata Prof Didik, dalam keterangannya, Senin, (2/3/2026).
Prof Didik menyampaikan juga selalu memperhatikan gagasan-gagasan Try yang dilontarkan di publik saat era Orde Baru maupun Reformasi.
Pun, ia mengenang mendiang Try yang tahun lalu masih sehat dan berpikiran jernih. Momen itu saat Try menyampaikan sambutan pada 21 Juli 2025 saat acara Pembinaan Ideologi Pancasila di Universitas Indonesia.
“Beliau menyampaikan bahwa kehidupan bangsa Indonesia saat ini cenderung berkarakter liberal yang mengikis moral dan etika kehidupan sesuai Pancasila,” jelas Prof Didik.
Dia menuturkan demokrasi saat ini dijalankan mengarah ke westernisasi sebagai hasil amandemen empat kali UUD 1945 mengubah kehidupan bangsa secara mendasar.
“Kritik Pak Try ini menurut saya harus dipertimbangkan karena wajah Indonesia sudah liberal kapitalistik dan semakin jauh dari etika, moral dan sendi falsafah Pancasila,” tutur Prof Didik.
Try Sutrisno merupakan tokoh militer yang lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 November 1935. Mantan ajudan Presiden Soeharto itu pada 1974 itu pernah menduduki berbagai posisi strategis.
Salah satunya Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) hingga akhirnya dipercaya menjadi Panglima ABRI pada periode 1988–1993. Puncak karier politiknya terjadi saat ia menjabat sebagai Wapres RI ke-6 pada periode 1993–1998, mendampingi Presiden Soeharto dalam Kabinet Pembangunan VI.

