AS dan Israel Tewaskan Ayatollah Khamenei, Rocky Gerung: Diplomasi Prabowo Hadapi Ujian Berat

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik paling kritis setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa militer AS berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Menanggapi situasi ini, pengamat politik Rocky Gerung menilai bahwa langkah Presiden Prabowo Subianto yang menawarkan diri sebagai juru damai akan menghadapi jalan terjal dan penuh tantangan pragmatis.

Rocky Gerung menganalisis bahwa serangan Israel yang dibantu Amerika Serikat ke jantung pertahanan Iran adalah bentuk dari “variabel realisme”. Israel dianggap memanfaatkan momentum internasional untuk memaksa Iran menghentikan proyek nuklirnya secara permanen melalui serangan fisik.

“Israel menganggap ini momentum terbaik. Daripada diserang, lebih baik menyerang duluan. Mereka tahu akan di-backup penuh oleh Amerika, terutama saat Trump sedang mengalami tekanan domestik dan ancaman impeachment,” kata Rocky dalam dialog di Youtube Channel-nya seperti dikutip Holopis.com, Minggu (1/3/2026).

Ia menambahkan bahwa perang ini menjadi alat bagi Trump untuk mengalihkan opini publik Amerika dari isu-isu moral dan skandal pribadinya.

Menariknya, di tengah bara api di Teheran, Presiden Prabowo Subianto secara terbuka menawarkan diri untuk menjadi penengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Rocky menilai langkah ini sebagai strategi diplomasi yang cerdas untuk memperbaiki citra domestik Presiden yang sempat terpuruk akibat keanggotaan Indonesia di Board of Peace (BoP).

“Presiden Prabowo cukup cerdas memanfaatkan momentum ini. Bukan sekadar demi efektivitas perdamaian, tapi minimal memberi sinyal ke dalam negeri bahwa Indonesia punya inisiatif di fora internasional,” ujarnya.

- Advertisement -

Langkah ini juga bisa dipandang sebagai upaya Prabowo untuk menjawab kritik netizen yang sebelumnya menuduh beliau hanya menjadi “kaki tangan” Amerika di BoP.

Rocky menyebut tawaran menjadi juru damai ini sebagai “bonus” dari kehadiran Indonesia di BoP. Namun, ia mengingatkan bahwa posisi Indonesia sangat moderat dan cenderung berhati-hati agar tidak menyinggung Amerika secara frontal.

“Opini publik mayoritas ingin Presiden mengutuk keras ulah Amerika. Tapi karena itu sulit dilakukan, dipilih modus sebagai penengah. Ini sesuai prinsip mendayung di antara dua karang,” jelasnya.

Meskipun begitu, tewasnya Khamenei akan mengubah susunan dunia secara radikal dan membuat posisi tawar juru damai manapun menjadi sangat sulit karena Iran dipastikan akan melakukan pembalasan habis-habisan.

“Konflik ini akan mengubah susunan dunia di hari-hari mendatang. Kita lihat apakah kapasitas diplomasi Indonesia mampu masuk di arena yang begitu rumit ini,” pungkas Rocky

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Muhammad Ibnu Idris
Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU