JAKARTA – Hari ini, umat Islam di seluruh penjuru dunia kembali memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, sebuah momentum penuh makna yang mengingatkan kita akan lahirnya sosok manusia paling mulia, pembawa risalah terakhir, sekaligus rahmat bagi semesta alam.
Maulid Nabi bukan hanya sekadar mengenang kelahiran beliau, tetapi juga sebagai sarana memperkuat kecintaan kepada Nabi, meneladani akhlaknya, serta menyebarkan nilai-nilai Islam yang penuh kasih sayang, keadilan, dan kedamaian.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Wa mā arsalnāka illā rahmatan lil-‘ālamīn
Artinya : “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Ayat ini menegaskan bahwa kelahiran Rasulullah SAW adalah karunia terbesar Allah bagi umat manusia dan seluruh makhluk.
Tanda-Tanda Menjelang Kelahiran Nabi
Kelahiran Nabi Muhammad SAW membawa banyak peristiwa istimewa yang menjadi tanda kebesaran Allah. Diriwayatkan bahwa pada malam kelahiran beliau, istana Kisra (raja Persia) berguncang, 14 balkon istana runtuh, api besar yang selama berabad-abad disembah kaum Majusi padam, serta banyak berhala di Ka’bah roboh. Peristiwa ini menjadi isyarat bahwa akan datang cahaya tauhid yang memadamkan kegelapan syirik.
Ibunda Nabi, Sayyidah Aminah, juga merasakan tanda-tanda khusus. Dalam beberapa riwayat, beliau menyaksikan cahaya terang keluar dari dirinya yang mampu menerangi istana-istana di negeri Syam. Cahaya itu adalah simbol hadirnya pemimpin agung yang kelak membimbing umat manusia menuju jalan Allah.
Kelahiran Sang Pembawa Cahaya
Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal di Kota Mekah, tahun Gajah (570 M), tahun di mana pasukan bergajah pimpinan Abrahah berusaha menyerang Ka’bah namun gagal. Sejak awal, kehidupan beliau sudah dinaungi keberkahan. Seorang bayi yatim yang lahir tanpa ayah, tetapi dengan kasih sayang Allah senantiasa dijaga, diasuh, dan dipersiapkan untuk mengemban risalah suci.
Rasulullah SAW pernah bersabda tentang hari kelahirannya:
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ
Dzāka yaumun wulidtu fīhi
Artinya : “Itu adalah hari aku dilahirkan.” (HR. Muslim)
Hadist ini menjelaskan bahwa kelahiran Nabi merupakan momen istimewa yang layak untuk dikenang.
Kehidupan Awal dan Tanda Kenabian
Sejak kecil, Muhammad kecil dikenal jujur, terpercaya, dan penuh kasih sayang. Beliau tumbuh dalam lingkungan masyarakat Quraisy yang masih kental dengan tradisi jahiliyah, tetapi akhlaknya jauh dari kebiasaan buruk kaumnya. Bahkan, masyarakat memberi gelar Al-Amin (yang terpercaya) karena kejujuran dan integritasnya.
Di usia muda, Nabi pernah ikut dalam perjanjian Hilf al-Fudhul, yaitu kesepakatan untuk menegakkan keadilan dan membela kaum lemah. Hal ini menunjukkan sejak awal beliau dipersiapkan untuk membawa misi besar sebagai penegak kebenaran.
Lahirnya Risalah dan Cahaya Islam
Pada usia 40 tahun, Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira, melalui malaikat Jibril. Wahyu itu berbunyi:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ • خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ • اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ • الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ • عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Iqra’ bismi rabbikalladzī khalaq. Khalaqal-insāna min ‘alaq. Iqra’ wa rabbukal-akram. Alladzī ‘allama bil-qalam. ‘Allamal-insāna mā lam ya‘lam.
Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
Ayat ini menjadi tanda dimulainya risalah Islam, yang kemudian menyebar ke seluruh dunia, menerangi kehidupan manusia dengan ilmu, keadilan, dan kasih sayang.
Teladan dari Maulid Nabi
Peringatan Maulid Nabi bukan sekadar seremoni. Ia adalah panggilan untuk meneladani akhlak Rasulullah, yang penuh kasih, sabar, rendah hati, dan mengutamakan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi. Beliau adalah sosok yang lembut kepada keluarganya, penyayang terhadap anak-anak, serta adil kepada masyarakatnya.
Allah SWT memuji akhlak Nabi dalam Al-Qur’an:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Wa innaka la‘alā khuluqin ‘azhīm
Artinya : “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
Oleh sebab itu, pada hari ini 5 September 2025, ketika kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, hendaknya kita tidak berhenti pada perayaan lahiriah, tetapi menjadikannya sebagai momentum memperdalam cinta kepada Rasulullah, mengikuti sunnahnya, dan meneruskan perjuangan beliau menebarkan rahmat dan kedamaian.
Semoga dengan memperingati Maulid Nabi, hati kita semakin dekat dengan Rasulullah SAW, dan kita digolongkan sebagai umatnya yang mendapatkan syafaat di hari kiamat kelak. Aamiin.


