JAKARTA – Hal yang terjadi belakangan ini adalah akses terhadap kebutuhan dasar semakin terbatas, sekadar mendapatkan sekantong tepung kini menjadi hal yang sangat berarti bagi banyak keluarga. Tepung menjadi barang langka dan sangat mahal, padahal bahan ini merupakan komponen utama dalam makanan sehari-hari.
“Saya hanya memiliki satu anak laki-laki, dan selama lebih dari 10 hari, dia terus meminta agar saya membeli tepung untuk keluarga kami,” kata Salim Abu Sabha, seorang warga Gaza, dikutip Holopis.com, Senin (7/7/2025).
“Ketika saya akhirnya bisa mendapatkan cukup uang untuk membeli sekantong, saya datang sendiri untuk membelinya. Saya tidak ingin mengambil risiko menyuruh anak saya pergi ke daerah-daerah berbahaya di mana bantuan dari Amerika didistribusikan,” lanjutnya.
Sebagai informasi, distribusi bantuan saat ini hanya dilakukan di empat titik militer oleh Gaza Humanitarian Foundation, lembaga yang didukung Israel dan Amerika Serikat. Jumlah ini jauh lebih sedikit dibandingkan sekitar 400 titik distribusi komunitas yang sebelumnya dikelola oleh PBB.
Sistem baru ini banyak dikritik karena dianggap tidak efisien dan membahayakan warga. Menurut data PBB hingga 27 Juni, sedikitnya 613 orang tewas akibat serangan di sekitar titik distribusi bantuan.
Sementara itu, serangan yang terus berlangsung dan pembatasan masuknya barang ke Gaza membuat harga tepung melonjak tajam. Perkiraan lokal menyebutkan harga tepung telah naik lebih dari 1.500 persen sejak Oktober 2023.
Banyak keluarga kini terpaksa berbagi satu karung tepung dengan beberapa rumah tangga, sementara sebagian lainnya sepenuhnya bergantung pada dapur umum.



