Manajemen kemudian menyesuaikan konsep kegiatan menjadi lebih sederhana.
Perusahaan juga menyebut telah melakukan evaluasi keuangan dengan memperhitungkan berbagai biaya yang sudah maupun masih harus ditanggung.
Tekanan terhadap RANS ternyata tidak hanya terjadi di lokasi acara.
Pergerakan saham perusahaan juga menjadi sorotan setelah polemik tersebut mencuat.
Saham RANS tercatat turun 4,90 persen ke level Rp97 pada perdagangan Selasa pagi.
Harga tersebut sudah berada 42,94 persen di bawah harga penawaran perdana saham atau initial public offering (IPO) sebesar Rp170 per saham pada 10 Juli 2026.
Padahal, saham RANS sempat menyentuh Rp272 pada 15 Juli 2026, tidak lama setelah melantai di Bursa Efek Indonesia.
Dari sisi kepemilikan, jumlah pemegang saham RANS tercatat sebanyak 126.253 investor pada akhir September 2026.
Angka itu merosot dibandingkan jumlah investor saat IPO yang mencapai 754.691.
Meski demikian, penurunan jumlah pemegang saham tersebut sudah terjadi sebelum kontroversi RANS Carnival mencuat.
Dalam jawaban kepada BEI, RANS menyatakan hingga 3 November 2026 tidak terdapat informasi atau fakta material lain yang belum diungkapkan kepada publik dan berpotensi memengaruhi harga saham maupun kelangsungan usaha perusahaan.
Kini, perhatian publik tertuju pada bagaimana RANS menghadapi dampak kontroversi tersebut.
Bantahan soal massa bayaran telah disampaikan, tetapi polemik boikot, mundurnya pengisi acara, dan tekanan terhadap saham masih menjadi pekerjaan rumah bagi perusahaan.





💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!