Ogah Cuma Jual Bahan Setengah Jadi, Pemerintah Kaji Ulang Pembangunan Smelter ke Depan

0 Shares
Ukuran Teks:
20
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pemerintah akan mengkaji pembangunan smelter ke depan.

Langkah tersebut menyusul semakin banyaknya smelter yang beroperasi di Indonesia. Namun, mayoritas produk yang dihasilkan industri hilirisasi saat ini dinilai masih berada pada tahap antara atau belum mencapai produk akhir.

Pemerintah, kata Bahlil, ingin industri pengolahan mineral tidak lagi berhenti pada produksi bahan setengah jadi, tetapi mampu menghasilkan produk akhir dengan nilai tambah lebih tinggi.

“Saya katakan kepada teman-teman pengusaha, industri hilirisasi kita sekarang masih mayoritas produknya itu baru di tengah, baru di 50-60 persen. (Smelter) ini membludak sekarang,” kata Bahlil, dikutip Holopis.com, Rabu (4/11/2026).

Bahlil mengatakan, pemerintah ingin mendorong pengembangan industri hingga menghasilkan produk akhir agar manfaat ekonomi dari pengolahan sumber daya mineral bisa dinikmati lebih besar di dalam negeri.

“Yang perlu kita dorong adalah produk akhirnya, supaya bahan baku setengah jadi tidak semuanya diekspor ke luar. Jadi, Indonesia ini benar-benar mendapatkan manfaatnya secara utuh. Ini yang sekarang kita lagi mau kaji,” ujarnya.

Ekspor Nikel Melonjak 10 Kali Lipat

Bahlil mencontohkan keberhasilan kebijakan hilirisasi nikel sebagai bukti bahwa konsistensi pemerintah dalam membangun industri pengolahan dapat meningkatkan nilai ekonomi komoditas mineral.

Dia mengungkapkan, pada periode 2017-2019, nilai ekspor nikel Indonesia hanya mencapai 3,3 miliar dolar AS. Namun, setelah pemerintah menghentikan ekspor nikel dan mendorong pembangunan industri pengolahan di dalam negeri, nilai ekspor meningkat menjadi 34 miliar dolar AS.

Menurut Bahlil, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari konsistensi kebijakan pemerintah dalam membangun ekosistem industri dari hulu hingga hilir.
Salah satu contohnya adalah pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik yang terintegrasi, mulai dari pertambangan, smelter, produksi prekursor, katoda, hingga baterai.

Bahlil mengaku gagasan membangun ekosistem industri baterai terintegrasi tersebut sempat diragukan ketika pertama kali disampaikan pada 2020.
Namun, perkembangan industri saat ini menunjukkan Indonesia mulai mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok global. Bahkan, Amerika Serikat telah mendapatkan pasokan bahan baku prekursor dan katoda dari Indonesia.

Selain itu, Indonesia kini telah memiliki tiga pabrik baterai, termasuk fasilitas produksi di Karawang, Jawa Barat, yang diresmikan pada 2024.

Hilirisasi Masuk Tahap Pendalaman Industri

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, langkah selanjutnya adalah memperdalam rantai industri agar pengolahan mineral menghasilkan produk dengan nilai tambah yang semakin tinggi.

Pengembangan tersebut mencakup produksi bahan antara hingga komponen yang dibutuhkan industri baterai.

Dengan demikian, pemerintah tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas pengolahan mineral melalui pembangunan smelter, tetapi juga mendorong pengembangan industri lanjutan yang mampu menyerap hasil produksi dalam negeri.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Khoirudin Ainun Najib
Tim Penulis & Editor
Khoirudin Ainun Najib
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!

YANG BARU