Dalam praktik klinis, obesitas pada anak dan remaja dapat ditemukan bersama berbagai masalah kesehatan, seperti hipertensi, dislipidemia atau gangguan kadar lemak dalam darah, serta diabetes melitus tipe 2.
Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang, termasuk penyakit jantung dan sejumlah jenis kanker.
Pada remaja perempuan, gangguan metabolik yang menyertai obesitas juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kesehatan reproduksi.
Selain dampak fisik, kondisi psikologis anak juga tidak boleh diabaikan. Ejekan dan stigma terhadap anak yang memiliki berat badan berlebih dapat mengganggu kepercayaan diri, kesehatan mental, serta hubungan sosial mereka.
Dokter UMY Ingatkan Bahaya Stigma terhadap Anak Obesitas
Bambang menekankan bahwa penanganan obesitas pada anak perlu dilakukan dengan pendekatan yang positif dan tidak menyalahkan kondisi tubuh anak.
Menurutnya, orang tua dan tenaga kesehatan perlu mengarahkan perhatian pada pembentukan kebiasaan sehat, bukan semata-mata mengejar penurunan berat badan atau standar penampilan tertentu.
“Stigma ‘gendut’ cukup berbahaya. Orang tua dan dokter perlu membantu meyakinkan anak bahwa fokusnya adalah kesehatan. Bukan sekadar soal diet, melainkan bagaimana membangun pola makan yang semakin sehat,” ungkapnya.
Pendampingan tersebut dapat dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua dapat menjadi teladan dengan menerapkan pola makan seimbang, membiasakan aktivitas fisik, dan menjaga waktu tidur yang teratur.
Aktivitas fisik juga tidak harus selalu berupa olahraga terstruktur. Anak dapat diajak melakukan kegiatan yang menyenangkan dan sesuai dengan usianya agar lebih banyak bergerak dalam keseharian.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...