Hasil bumi bisa laris diekspor tanpa membuat bangsa ini menguasai teknologinya.
Produksi bisa naik tanpa memperbaiki nasib petani.
Ekonomi pun bisa tumbuh sambil meninggalkan kesenjangan dan kerusakan lingkungan.
Cara pandang terhadap pertanian pun, kata Bungaran, perlu dibenahi.
Selama ini pertanian dianggap sebatas kegiatan di lahan, kebun, kandang, dan kolam.
Bila hanya itu yang dihitung, sumbangannya cuma sekitar seperdelapan perekonomian, dan angka sekecil itu mudah melahirkan kesimpulan bahwa sektor ini boleh ditinggalkan saat ekonomi kian maju.
Padahal, di balik sepiring makanan ada rangkaian panjang yang bergerak bersamaan, mulai dari benih, pupuk, pakan, mesin, pengolahan, perdagangan, angkutan, pembiayaan, riset, hingga konsumsi.
Seluruh rantai itu ia namai agribisnis sebagai mega-sektor.
Namun rantai sebesar itu punya satu simpul yang paling rapuh, yaitu logistik.
“Kita tidak memiliki konsep logistik untuk mega-sektor agribisnis,” ujarnya.
Di negara kepulauan, jadwal kapal, pelabuhan, gudang, dan rantai dingin ikut menentukan biaya produksi dan daya saing.
Dari persoalan itulah Bungaran masuk ke gagasan yang paling menonjol dalam bukunya, yakni pergeseran dari keunggulan komparatif menuju keunggulan transformasional.
Ia mengingatkan, kekayaan alam tidak otomatis membawa kemajuan.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...