BOGOR, Holopis.com – Prof Bungaran Saragih mengungkap strategi besar Indonesia memanfaatkan sawit melalui PKH, B50, dan tata kelola ekspor untuk memimpin bioekonomi dunia.
Guru Besar Ekonomi Pertanian IPB sekaligus mantan Menteri Pertanian, Prof. Bungaran Saragih, membongkar arah besar pembangunan industri sawit nasional yang menurutnya tengah disiapkan pemerintah untuk membawa Indonesia menjadi pemimpin bioekonomi tropis dunia.
Dalam Media Gathering Agrina, Rabu (10/6/2026), Bungaran menyoroti tiga kebijakan strategis yang saat ini dijalankan pemerintah, yakni Penertiban Kawasan Hutan (PKH), implementasi biodiesel B50, dan penguatan tata kelola ekspor sawit.
Menurutnya, ketiga kebijakan tersebut merupakan satu kesatuan strategi yang akan mengubah wajah industri sawit Indonesia dalam beberapa dekade ke depan.
“PKH, B50, dan tata kelola ekspor sawit merupakan tiga pilar transformasi industri sawit Indonesia,” kata Bungaran.
Ia menilai Indonesia sedang meninggalkan model lama industri sawit yang hanya berfokus pada aktivitas tanam, panen, produksi, dan ekspor bahan mentah.
Ke depan, sawit harus menjadi motor penggerak hilirisasi industri, energi terbarukan, inovasi teknologi, hingga ekspor produk bernilai tambah tinggi.
Menurut Bungaran, transformasi tersebut bukan hanya agenda sektor perkebunan, melainkan bagian dari strategi besar pembangunan nasional.
“Sawit harus dilihat bukan hanya sebagai komoditas perkebunan. Sawit adalah bagian dari ketahanan energi, ketahanan ekonomi, pembangunan wilayah, dan bioekonomi masa depan Indonesia,” ujarnya.
Pernyataan Bungaran bukan tanpa dasar karena saat ini Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan produksi mencapai 46,7 juta ton pada musim 2025/2026 atau sekitar 58% dari total produksi global.
Posisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai pemain dominan dalam rantai pasok minyak nabati dunia.
Menurut Bungaran, dominasi tersebut harus dimanfaatkan untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri, bukan sekadar mengandalkan ekspor bahan baku.
Salah satu instrumen yang dinilai paling strategis adalah implementasi program biodiesel B50.
Pemerintah menargetkan penggunaan campuran 50% biodiesel berbasis sawit mulai 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil.
Untuk mendukung program tersebut, pemerintah telah menyiapkan jutaan ton CPO sebagai bahan baku utama.
Bungaran menilai kebijakan B50 akan menjadi katalis penting bagi hilirisasi sawit karena mendorong peningkatan konsumsi domestik dan memperluas pemanfaatan sawit sebagai sumber energi terbarukan.
Selain B50, kebijakan tata kelola ekspor sawit juga dinilai menjadi bagian penting dalam strategi memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
Pemerintah saat ini tengah menerapkan skema baru pengelolaan ekspor komoditas strategis melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah serta memperkuat posisi tawar Indonesia dalam perdagangan internasional.
Sementara itu, program PKH dipandang sebagai langkah untuk memperkuat kepastian hukum dan tata kelola sektor sawit, terutama dalam penyelesaian berbagai persoalan lahan yang selama ini menjadi hambatan investasi dan pengembangan industri.
Bungaran mengingatkan bahwa industri sawit telah terbukti menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional saat menghadapi berbagai krisis besar, mulai dari krisis ekonomi 1998, gejolak keuangan global 2008, hingga pandemi Covid-19.
Dalam periode tersebut, industri sawit berperan menjaga aliran devisa, menyerap jutaan tenaga kerja, menopang ekonomi daerah, serta membantu mempercepat pemulihan ekonomi nasional.
“Kalau tidak ada sawit pada masa pandemi, saya tidak bisa membayangkan bagaimana ekonomi Indonesia bisa pulih secepat itu,” katanya.
Meski optimistis terhadap masa depan industri sawit, Bungaran menegaskan bahwa pengembangan sektor ini harus tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah menciptakan keseimbangan antara produktivitas, perlindungan lingkungan, kepastian hukum, daya saing industri, dan kesejahteraan petani.
“Tugas kita bukan memilih antara sawit dan lingkungan. Tugas kita adalah membangun keseimbangan antara keduanya,” tegasnya.
Ia menilai Indonesia memiliki seluruh modal untuk menjadi pusat bioekonomi dunia, mulai dari sumber daya alam yang melimpah, petani yang tangguh, pasar domestik yang besar, hingga posisi dominan di pasar global.
“Indonesia memiliki anugerah besar berupa sawit. Jika dikelola dengan baik, Indonesia bukan hanya menjadi produsen sawit terbesar dunia, tetapi juga pemimpin bioekonomi tropis dunia,” ujar Bungaran.
Karena itu, ia mendorong agar momentum PKH, B50, dan penguatan tata kelola ekspor dimanfaatkan sebagai titik awal transformasi besar industri sawit nasional menuju industri yang lebih produktif, berkelanjutan, berkeadilan, dan mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.
“Kalau keseimbangan antara keberlanjutan, kepastian hukum, daya saing, dan kesejahteraan rakyat dapat dijaga, Indonesia akan menjadi pemimpin bioekonomi tropis dunia,” pungkasnya.


