HOLOPIS.COM, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang mengalami technical rebound pada perdagangan pekan 12-16 Oktober 2026. Namun, pergerakan pasar saham domestik masih dibayangi sejumlah sentimen global, mulai dari rilis data inflasi Amerika Serikat (AS), prospek suku bunga bank sentral, hingga perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai prospek IHSG pada pekan ini masih berada dalam kategori cautiously optimistic atau optimistis dengan tetap mencermati risiko yang ada.
Menurut Nafan, peluang pemulihan indeks saham domestik terbuka selama IHSG mampu mempertahankan posisinya di atas level psikologis 6.000. Stabilitas indikator ekonomi dalam negeri juga dinilai menjadi salah satu penopang pergerakan pasar.
“Selama IHSG masih mampu bertahan di level 6.000 atau lebih, maka dari itu peluang terjadinya technical rebound terbuka lebar. Untuk perdagangan IHSG pada pekan nanti memang dalam kategori cautiously optimistic,” ujar Nafan dalam keterangannya kepada wartawan, dikutip Holopis.com, Senin (12/10/2026).
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati perkembangan ekonomi global yang berpotensi memengaruhi aliran modal dan selera risiko di pasar keuangan, terutama menjelang pengumuman data inflasi AS untuk September 2026.
Data Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu menjadi salah satu agenda ekonomi paling krusial bagi investor pekan ini.
Para ekonom memperkirakan inflasi tahunan AS meningkat dari 3,4 persen pada Agustus menjadi sekitar 3,7 persen pada September. Kenaikan tersebut diperkirakan terutama dipicu oleh meningkatnya harga bensin.
Namun, perhatian pelaku pasar tidak hanya tertuju pada inflasi umum. Inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi akan menjadi indikator penting untuk mengukur tekanan harga yang mendasari perekonomian AS.
Inflasi inti diperkirakan naik 0,2 persen secara bulanan. Apabila realisasinya melampaui perkiraan, ekspektasi pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) berpotensi menguat.
Kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan menekan saham teknologi maupun saham berorientasi pertumbuhan. Sebaliknya, inflasi inti yang sesuai atau lebih rendah dari perkiraan berpotensi meredakan tekanan di pasar obligasi dan saham.
Bagi pasar saham Indonesia, perkembangan tersebut penting dicermati karena perubahan ekspektasi suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan dolar AS, nilai tukar rupiah, serta keputusan investor global dalam mengalokasikan dana ke pasar negara berkembang.
Selain inflasi, investor global akan mencermati dimulainya musim laporan keuangan kuartal III 2026 di Amerika Serikat.
Pada Selasa, sejumlah perusahaan besar, termasuk JPMorgan Chase dan Goldman Sachs, dijadwalkan merilis kinerja keuangan. Laporan tersebut akan memberikan gambaran mengenai profitabilitas sektor perbankan sekaligus kondisi ekonomi AS.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...