Viral di TikTok, Syal Bekas di Pasar Senen Diburu, Penjualan Naik 70 Persen

1 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

Eddy sendiri telah berjualan di Pasar Senen sejak 2010. Namun, ia mulai menjual syal secara khusus sekitar 2019. Ia mengatakan penjualan syal mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir dan mulai terasa lebih ramai sejak 2025.

Kelompok pembelinya juga beragam. Anak muda menjadi salah satu kelompok yang banyak mencari syal. Namun, perempuan berusia sekitar 40 hingga 50 tahun juga disebut cukup sering membeli barang tersebut.

Tren Naik, Stok Barang Sempat Habis

Peningkatan permintaan juga berdampak pada ketersediaan stok di lapak Eddy. Ia mengaku pernah kehabisan syal ketika permintaan meningkat. Saat stok baru belum datang, ia tetap berjualan menggunakan barang yang masih tersedia.

“Pernah habis semuanya. Barangnya nggak ada lagi, nggak ada datang. Jualan tetap, cuma dari stok yang lama,” tuturnya.

Menurut Eddy, sebagian stok syal yang dijualnya berasal dari Jepang. Ia mengatakan mendapatkan barang bekas dari luar negeri kini sedikit lebih sulit dibandingkan sebelumnya. Kondisi tersebut juga membuat harga dari pemasok mengalami kenaikan.

“Agak susah sedikit dari biasanya. Harganya juga naik,” katanya.

Persoalan pasokan tersebut berlangsung di tengah kebijakan pemerintah yang melarang impor pakaian bekas. Melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 47 Tahun 2025 tentang Barang yang Dilarang untuk Diimpor, pakaian bekas dan barang bekas lainnya dengan pos tarif atau HS 6309.00.00 masuk dalam daftar barang yang dilarang diimpor. Aturan tersebut mulai berlaku pada 1 Januari 2026.

Pengawasan terhadap pakaian bekas impor juga terus dilakukan. Melansir laman resmi Kementerian Keuangan, Bea Cukai melakukan dua penindakan pada 2026, yakni pada 14 Agustus di perairan Serdang Bedagai, Sumatera Utara dan 17 September di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Dari dua penindakan tersebut, petugas mengamankan 1.435 balpres pakaian yang diduga bekas dengan nilai sekitar Rp11,44 miliar.

Di tengah pengawasan tersebut, tren syal di Pasar Senen akhirnya memperlihatkan dua kondisi yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, media sosial mendorong pembeli mencari syal bermotif dan membuat penjualan pedagang meningkat. Di sisi lain, aturan pemerintah mengenai impor pakaian bekas membuat pedagang menghadapi persoalan pasokan untuk memenuhi permintaan tersebut.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Vhina Noviyanti
Darin Brenda Iskarina
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Darin Brenda Iskarina
1 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Memuat diskusi...

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKMIklan: Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--
YANG BARU