Namun, di sinilah persoalan besarnya.
Menurut ekonom Bank Permata Josua Pardede, Suahasil harus menjaga keseimbangan yang tidak mudah: mendorong pertumbuhan ekonomi, membiayai program prioritas pemerintah, meningkatkan penerimaan negara, sekaligus mempertahankan disiplin fiskal.
Tantangan itu semakin berat karena ruang fiskal pemerintah dinilai relatif terbatas.
Josua menyoroti rancangan APBN 2027 yang mematok pendapatan negara sebesar Rp3.426 triliun.
Sementara itu, belanja negara dirancang mencapai Rp4.097,2 triliun dengan defisit 2,40% terhadap PDB.
Angka tersebut membuat ruang kesalahan dalam mengambil kebijakan menjadi semakin terbatas.
Suahasil pun harus memastikan kebijakan fiskal tetap mampu menopang perekonomian tanpa mengorbankan kredibilitas anggaran negara.
Faiz bahkan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level yang lebih konservatif, yakni sekitar 5,1%.
Sementara defisit diproyeksikan sekitar 2,75% terhadap PDB.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah dinilai harus semakin selektif dalam menentukan belanja.
Pengeluaran yang memberikan multiplier rendah perlu dievaluasi dan diarahkan menuju belanja yang lebih produktif agar setiap rupiah anggaran memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.
Pekerjaan rumah Suahasil ternyata tak berhenti pada angka-angka APBN.
Surya Wijaksana mengingatkan adanya persoalan domestik yang secara langsung berkaitan dengan kondisi masyarakat, terutama lapangan pekerjaan dan inflasi.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...