Kondisinya masih baik.
Yang paling penting, telur tersebut menunjukkan tanda fertilitas.
Artinya, telur tersebut masih memiliki peluang untuk berkembang dan menetas.
Karena itu, 96 butir telur tersebut direkomendasikan untuk ditetaskan.
Saat ini, seluruh telur itu telah diinkubasi di Kantor Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak.
Kondisi berbeda ditemukan pada 1.190 telur yang diamankan dari Sintete.
Telur-telur tersebut terindikasi berasal dari penyu sisik dan penyu hijau.
Namun, hasil pemeriksaan sampel tidak menunjukkan tanda fertilitas.
Karena itu, telur tersebut tidak direkomendasikan untuk diinkubasi.
Selanjutnya, 1.190 telur itu akan ditangani sesuai mekanisme yang berlaku.
Perbedaan kondisi dua kelompok telur tersebut menjadi salah satu perhatian dalam proses penanganan yang dilakukan KKP.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Koswara mengatakan perlindungan penyu tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.
“Perlindungan penyu membutuhkan sinergi seluruh pihak. Kecepatan respons, koordinasi antarinstansi, serta kepatuhan terhadap prosedur menjadi kunci agar setiap temuan dapat ditangani dengan baik sekaligus mendukung kelestarian ekosistem laut,” ujar Koswara dalam siaran resmi di Jakarta, Selasa (11/8/2026).



