HOLOPIS.COM, JAKARTA – Bencana kekeringan hingga karhutla (kebakaran hutan dan lahan) hingga saat ini masih terus terjadi di Provinsi Jabar (Jawa Barat).
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan, kekeringan terjadi di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.
“Bencana ini berdampak pada 175 kepala keluarga atau 520 jiwa. Wilayah terdampak berada di Desa Cangkorah, Kecamatan Batujajar,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Rabu (29/7).
Untuk menangani persoalan tersebut, Abdul menjelaskan bahwa BPBD setempat telah mendistribusikan bantuan air bersih sebanyak 4.000 liter atau dua ritase guna memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.
Bencana kekeringan kemudian juga terjadi di Kabupaten Bogor yang terjadi sejak Selasa (1/7) kini berdampak pada 21.504 kepala keluarga atau 69.889 jiwa.
BPBD Kabupaten Bogor kembali menambah distribusi air bersih sebanyak 30.000 liter atau enam ritase, di antaranya disalurkan kepada warga Kampung Cipambuan RT 02/RW 04, Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang
Masih di Provinsi Jawa Barat, karhutla di Kabupaten Sumedang yang terjadi pada Selasa (28/7) menghanguskan sekitar 3 hektare lahan. Lokasi kebakaran berada di Desa Cinanjung, Kecamatan Tanjungsari.
“Berkat penanganan cepat oleh tim gabungan, api berhasil dipadamkan sehingga tidak meluas ke area sekitar,” ujarnya.
Abdul mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau. Upaya pencegahan karhutla perlu diperkuat dengan tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, meningkatkan patroli di wilayah rawan, serta memastikan ketersediaan sumber air yang dapat diakses untuk penanganan dini.Di samping itu, masyarakat juga diimbau menggunakan air secara bijak dalam menghadapi ancaman kekeringan.
“Mengantisipasi potensi ancaman bahaya, masyarakat dapat mengikuti informasi resmi dari BMKG, BPBD, dan instansi terkait, serta segera melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran maupun kondisi darurat lainnya agar dapat segera ditangani. Kesiapsiagaan dan respons cepat seluruh unsur menjadi kunci dalam meminimalkan risiko serta dampak bencana,” imbaunya.



