Bos Bulog: Jangan Takut-takuti Petani dengan Isu El Nino, Dampaknya Bisa Fatal!

Statement El Nino itu harus betul-betul dipastikan. Karena berpengaruh kepada para petani yang tadinya mau bercocok tanam jadi takut-takut bercocok tanam gara-gara ada statement El Nino ini.

0 Shares

JAKARTA, HOLOPIS.COMBos Bulog mengingatkan agar isu El Nino tidak disampaikan sembarangan. Pernyataan yang keliru dinilai bisa berdampak besar bagi petani.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani meminta seluruh pihak lebih berhati-hati saat menyampaikan informasi mengenai potensi El Nino.

Menurutnya, narasi yang terlalu menonjolkan ancaman kekeringan tanpa didukung data yang kuat justru dapat memengaruhi mental petani dan membuat mereka menunda musim tanam.

Rizal menilai isu iklim memang perlu disampaikan kepada publik sebagai bentuk kewaspadaan.

Namun, penyampaiannya harus proporsional agar tidak menimbulkan kepanikan, terutama di kalangan petani yang sedang bersiap menggarap sawah.

“Statement El Nino itu harus betul-betul dipastikan. Karena berpengaruh kepada para petani yang tadinya mau bercocok tanam jadi takut-takut bercocok tanam gara-gara ada statement El Nino ini,” ujar Rizal dalam konferensi pers di Kantor Pusat Bulog, Jakarta Selatan, Senin (13/7/2026).

- Advertisement -

Ia menegaskan bahwa keputusan petani untuk menanam sangat dipengaruhi keyakinan terhadap kondisi cuaca.

Apabila informasi yang beredar lebih banyak berisi prediksi buruk tanpa penjelasan yang utuh, petani bisa memilih menunggu.

Akibatnya, jadwal tanam mundur dan produksi pangan berpotensi ikut terganggu.

Karena itu, Rizal meminta setiap informasi mengenai El Nino didasarkan pada hasil pengamatan dan kajian yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Menurutnya, peringatan dini tetap diperlukan, tetapi harus disampaikan secara objektif agar tidak memunculkan ketakutan yang berlebihan.

Ia bahkan mengaku masih melihat kondisi cuaca di sejumlah wilayah belum sepenuhnya mencerminkan dampak El Nino seperti yang dikhawatirkan.

Dalam beberapa kunjungan kerjanya, hujan masih turun di berbagai daerah.

“Kalau dibilang El Nino, masih ada hujan sekarang. Saya masih merasakan hujan di Jakarta, di Papua, di Kalimantan, sampai Sumatra. Jadi saya juga mempertanyakan El Nino ini benar atau tidak,” katanya.

Menurut Rizal, kondisi tersebut menunjukkan bahwa situasi di lapangan perlu terus dipantau sebelum menyimpulkan dampak El Nino terhadap sektor pertanian secara nasional.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi Seluruh Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso.

Ia mengatakan hingga saat ini belum ada cukup bukti yang menunjukkan produksi beras mengalami penurunan akibat El Nino.

Hal itu karena sebagian besar daerah sentra produksi masih memasuki musim panen kedua, sehingga dampak cuaca terhadap hasil panen baru bisa diketahui setelah proses panen selesai.

“Belum terlihat, karena sekarang ini baru mulai panen kedua. Nanti kita lihat sekitar bulan Agustus apakah produksinya turun atau tidak,” ujar Sutarto.

Ia menambahkan, selama gabah dan beras masih terus mengalir dari sentra produksi, belum ada alasan untuk menyimpulkan bahwa El Nino telah mengganggu pasokan pangan nasional.

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan bahwa fenomena El Nino diperkirakan menguat pada tahun ini.

BMKG menyebut peluang El Nino mencapai kategori kuat mencapai 98 persen dan diperkirakan berlangsung sekitar 9 hingga 12 bulan.

Fenomena tersebut diproyeksikan mengurangi curah hujan pada periode Juli hingga Oktober 2026, terutama di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan.

BMKG juga mengingatkan potensi dampaknya terhadap sektor pertanian, mulai dari terganggunya pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga meningkatnya risiko gagal panen akibat terbatasnya ketersediaan air.

Karena itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan pelaku sektor pertanian memanfaatkan informasi iklim sebagai dasar penyusunan pola tanam, memperkuat pengelolaan irigasi, serta menyiapkan langkah mitigasi sejak dini.

Meski demikian, Bulog menilai keseimbangan informasi tetap menjadi hal yang penting.

Kewaspadaan terhadap perubahan iklim harus dibangun tanpa menciptakan kepanikan.

Dengan begitu, petani tetap memiliki keyakinan untuk menanam, sementara langkah antisipasi terhadap potensi El Nino tetap dapat dijalankan secara terukur.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU