Dihantam Wabah ASF, Peternakan Babi Babak Belur! Indonesia Akhirnya Impor 546 Ekor Indukan dari Denmark

0 Shares

HOLOPIS.COM, MANADO – Wabah ASF menghantam peternakan babi nasional. Indonesia akhirnya mengimpor 546 ekor indukan babi dari Denmark untuk mempercepat pemulihan populasi.

Setelah bertahun-tahun terpukul akibat wabah African Swine Fever (ASF) yang menggerus populasi ternak babi nasional, Indonesia akhirnya mengambil langkah besar untuk mempercepat pemulihan sektor peternakan.

Untuk pertama kalinya, pemerintah bersama pihak swasta mendatangkan 546 ekor indukan babi hidup asal Denmark, yang dikenal sebagai salah satu negara dengan kualitas genetik babi terbaik di dunia.

Langkah ini diharapkan menjadi titik awal kebangkitan industri peternakan babi nasional yang sejak 2019 mengalami tekanan berat akibat penyebaran ASF.

Wabah tersebut menyebabkan jutaan ekor babi mati atau harus dimusnahkan sehingga mengganggu pasokan, produksi, hingga pendapatan peternak di berbagai daerah.

Ketua Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI), Sauland Sinaga, mengatakan impor indukan tersebut merupakan hasil kerja sama antarpemerintah Indonesia dan Denmark yang telah dipersiapkan sejak beberapa tahun lalu.

- Advertisement -

Setelah proses negosiasi selesai, pelaksanaannya dilakukan oleh perusahaan swasta yang berbasis di Manado.

Menurut Sauland, Indonesia selama ini masih menghadapi kekurangan populasi babi yang diperkirakan mencapai sekitar 4 juta ekor setiap tahun.

Kondisi tersebut membuat upaya pemulihan membutuhkan dukungan bibit unggul agar produksi dapat kembali meningkat dalam waktu lebih cepat.

“Ini merupakan pertama kalinya Indonesia mengimpor bibit babi hidup dari Denmark. Langkah ini sangat baik untuk mempercepat peningkatan populasi babi nasional sekaligus membantu peternak memperoleh indukan dengan kualitas genetik unggul,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (10/7/2026).

Ia menjelaskan, seluruh bibit yang didatangkan telah melalui serangkaian prosedur kesehatan yang ketat sebelum diberangkatkan ke Indonesia.

Otoritas veteriner Denmark maupun Indonesia memastikan seluruh ternak bebas dari berbagai penyakit hewan menular, termasuk African Swine Fever, sehingga aman untuk dikembangkan sebagai indukan.

Selain bebas penyakit, bibit asal Denmark juga memiliki sejumlah keunggulan yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi usaha peternakan.

Indukan dengan kombinasi genetik Landrace-Yorkshire (LY) dikenal memiliki kemampuan reproduksi lebih tinggi dibandingkan bibit yang selama ini banyak digunakan peternak di Indonesia.

Jika indukan biasa rata-rata hanya menghasilkan sekitar delapan anak per kelahiran, bibit asal Denmark mampu melahirkan hingga 14 anak dalam satu kali beranak.

Dengan tambahan sekitar enam ekor anak babi di setiap kelahiran, produktivitas peternak diperkirakan akan meningkat secara signifikan.

Tak hanya unggul dari sisi reproduksi, bibit tersebut juga dikenal memiliki efisiensi konversi pakan yang lebih baik.

Artinya, kebutuhan pakan dapat ditekan sehingga biaya produksi menjadi lebih rendah dan keuntungan peternak berpotensi meningkat.

Sauland menambahkan, kebutuhan bibit unggul di Indonesia saat ini masih sangat besar.

Karena itu, kedatangan 546 ekor indukan tersebut belum akan memenuhi seluruh kebutuhan nasional, melainkan menjadi langkah awal dalam memperkuat sistem pembibitan di dalam negeri.

Ia berharap bibit unggul tersebut nantinya dapat dikembangkan di berbagai sentra peternakan babi sehingga menghasilkan keturunan berkualitas yang mampu mempercepat pemulihan populasi nasional pasca-serangan ASF.

Sebagai informasi, sebanyak 546 ekor indukan babi hidup asal Denmark tiba di Bandara Sam Ratulangi, Manado, pada 7 Juli 2026.

Setibanya di Indonesia, seluruh ternak langsung menjalani pemeriksaan dokumen, inspeksi fisik, observasi, serta pengujian lanjutan di Instalasi Karantina Hewan (IKH) sebelum nantinya didistribusikan ke lokasi pembibitan.

AMI menilai langkah tersebut menjadi momentum penting bagi kebangkitan industri peternakan babi nasional.

Dengan dukungan bibit unggul berstandar internasional, produktivitas peternak diharapkan meningkat, populasi ternak dapat kembali pulih, dan daya saing industri peternakan babi Indonesia semakin kuat di masa mendatang.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Ronalds Petrus Gerson
Gesha Yuliani Nattasya, Ronalds Petrus Gerson
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

YANG BARU