HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ironi harga telur kembali terjadi. Saat sebagian daerah menikmati harga murah, Papua justru mencatat harga hingga Rp63 ribu per kilogram. Bagaimana nasib peternak?
Harga telur ayam ras di Indonesia kembali memperlihatkan ironi.
Saat sebagian besar daerah menikmati harga yang terus turun hingga berada di bawah harga acuan pemerintah, masyarakat di sejumlah wilayah Papua justru harus membeli telur dengan harga yang melonjak hingga Rp63.000 per kilogram.
Di saat yang sama, peternak ayam petelur di sentra produksi masih harus menanggung kerugian karena harga jual belum mampu menutup biaya produksi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tren penurunan harga telur ayam ras masih berlanjut pada pekan ketiga Juli 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengungkapkan sebanyak 72,5% kabupaten/kota di Indonesia mengalami penurunan Indeks Perkembangan Harga (IPH) komoditas telur ayam ras.
Secara nasional, rata-rata harga telur kini berada di level Rp29.158 per kilogram atau sekitar 3,49% di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan sebesar Rp30.000 per kilogram.
“Sejak Maret 2026 harga telur ayam ras terus mengalami penurunan setiap minggu. Saat ini rata-rata nasional sudah berada di bawah HAP,” ujar Ateng dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (20/7/2026).
Meski demikian, kondisi nasional tersebut belum mencerminkan situasi di seluruh Indonesia.
Di sejumlah daerah, terutama kawasan Indonesia timur, harga telur masih sangat tinggi akibat persoalan distribusi dan pasokan.
Kabupaten Mappi, Papua Selatan, menjadi wilayah dengan harga telur tertinggi di Indonesia.
Harga komoditas tersebut mencapai Rp63.000 per kilogram atau sekitar 110% di atas HAP.
Tak jauh berbeda, Kabupaten Mahakam Ulu mencatat harga Rp58.000 per kilogram atau 93,33% di atas HAP, sementara Kabupaten Dogiyai berada di kisaran Rp45.000 per kilogram.



