Viral Video Erupsi Anak Krakatau Ternyata Hoaks, Ini Penjelasan ESDM

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Video yang diklaim memperlihatkan erupsi dahsyat Gunung Anak Krakatau dari atas kapal tengah ramai beredar di media sosial.

Rekaman tersebut menampilkan letusan berulang yang memuntahkan api ke langit pada malam hari, sehingga memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Namun, pemerintah memastikan video itu bukan berasal dari aktivitas terbaru Gunung Anak Krakatau.

Kepastian tersebut disampaikan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) setelah melakukan proses verifikasi terhadap video yang viral.

Hasil penelusuran menunjukkan bahwa rekaman tersebut tidak berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

“Setelah dilakukan verifikasi, video tersebut bukan merupakan rekaman erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi saat ini sehingga informasi tersebut merupakan hoaks (tidak benar),” tulis Badan Geologi ESDM dalam keterangan resminya, Minggu (5/7).

- Advertisement -

Badan Geologi menjelaskan, Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di kawasan Selat Sunda.

Aktivitas vulkaniknya telah menjadi perhatian sejak peristiwa besar pada 2018, ketika gempa bumi memicu erupsi disertai longsoran sebagian tubuh gunung yang kemudian menyebabkan tsunami di wilayah pesisir Selat Sunda.

Setelah kejadian tersebut, Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi dengan intensitas rendah sebagai bagian dari proses pertumbuhan kembali tubuh gunung.

Fase tersebut berlangsung hingga 16 Desember 2023 sebelum akhirnya memasuki masa jeda aktivitas.
Memasuki awal Juli 2026, Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan dua kali erupsi.

Letusan pertama tercatat terjadi pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB, sedangkan erupsi berikutnya berlangsung pada 3 Juli 2026 pukul 11.50 WIB.

Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap aktivitas tersebut, video yang tidak sesuai fakta kemudian beredar luas dan memicu kesalahpahaman.

Selain meluruskan soal video viral, Badan Geologi juga membantah informasi mengenai rekomendasi jarak aman sejauh 5 kilometer yang beredar di media sosial.

Menurut lembaga tersebut, ketentuan yang berlaku saat ini masih mengacu pada radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Dalam status aktivitas Level III (Siaga), masyarakat, wisatawan, maupun nelayan tidak diperkenankan memasuki area dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi.

Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya berupa awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, hingga hujan abu apabila aktivitas vulkanik meningkat.

Badan Geologi turut menegaskan bahwa masyarakat di wilayah pesisir Provinsi Banten dan Lampung tidak perlu terpancing isu yang menyebut erupsi Gunung Anak Krakatau akan langsung memicu tsunami.

Hingga saat ini, masyarakat tetap dapat beraktivitas seperti biasa dengan tetap mengikuti arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan perkembangan informasi resmi.

Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai maupun menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi.

Seluruh perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, termasuk rekomendasi keselamatan, hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, serta platform MAGMA Indonesia agar informasi yang diterima publik tetap akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Fisca Dwi Astuti
Fisca Dwi Astuti
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU