JAKARTA, Holopis.com – OJK mengungkap dana kredit Rp2.500 triliun belum dicairkan. Pengusaha memilih wait and see di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar.
Di tengah likuiditas perbankan yang melimpah, roda pembiayaan dunia usaha justru belum berputar maksimal.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan terdapat sekitar Rp2.500 triliun fasilitas kredit yang sudah disetujui bank, tetapi hingga kini belum dicairkan oleh para debitur.
Besarnya nilai undisbursed loan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pelaku usaha masih enggan mengambil risiko untuk melakukan ekspansi.
Meski akses pembiayaan telah terbuka, banyak perusahaan memilih menunda penggunaan kredit sambil menunggu kepastian arah perekonomian.
Kepala OJK Provinsi Banten Adi Dharma mengatakan fenomena itu menunjukkan sikap dunia usaha yang masih cenderung menahan diri.
“Kalau saya lihat, pengusaha kita sedang wait and see. Faktanya, dana yang belum ditarik oleh pengusaha meski perjanjian kreditnya sudah disetujui mencapai kurang lebih Rp2.500 triliun,” kata Adi dalam Journalist Class ke-12 OJK di Bintaro.
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada kemampuan bank menyediakan dana.
Industri perbankan justru memiliki likuiditas yang cukup untuk membiayai kegiatan usaha.
Namun, minimnya keberanian pelaku usaha memanfaatkan kredit membuat dana tersebut hanya mengendap di sistem perbankan.
Kondisi ini turut menjelaskan mengapa pertumbuhan kredit masih tertinggal dibandingkan penghimpunan dana masyarakat.
Uang terus masuk ke perbankan, tetapi penyalurannya ke sektor produktif belum secepat yang diharapkan.
Adi menilai ketidakpastian ekonomi dan gejolak pasar keuangan masih menjadi faktor yang membebani keputusan investasi.
Fluktuasi pasar saham hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah membuat banyak pelaku usaha memilih menunggu situasi lebih kondusif sebelum merealisasikan ekspansi.
“Makanya Bank Indonesia langsung meningkatkan BI Rate agar investor tidak keluar,” ujarnya.
Data OJK menunjukkan, hingga Maret 2026 aset perbankan di DKI Jakarta mencapai Rp10.653 triliun atau tumbuh 6,50 persen secara tahunan.
Dana pihak ketiga (DPK) melonjak 19,99 persen menjadi Rp5.667 triliun, sementara penyaluran kredit hanya meningkat 13,43 persen menjadi Rp4.593,1 triliun.
Lonjakan DPK terutama ditopang pertumbuhan deposito sebesar 23,38 persen menjadi Rp2.527,8 triliun.
Giro naik 19,73 persen menjadi Rp2.265,04 triliun, sedangkan tabungan tumbuh 11,70 persen menjadi Rp874,19 triliun.
Di Banten, aset perbankan tercatat sebesar Rp358 triliun atau tumbuh 5,31 persen, dengan penghimpunan DPK mencapai Rp309 triliun atau meningkat 6,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski OJK memastikan kondisi perbankan tetap sehat dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 1,45 persen dan Loan to Deposit Ratio (LDR) 81,05 persen, besarnya kredit yang belum dimanfaatkan menjadi cerminan bahwa kepercayaan dunia usaha terhadap prospek ekonomi belum sepenuhnya pulih.
Selama pelaku usaha masih memilih bersikap wait and see, triliunan rupiah dana siap salur itu berpotensi terus menganggur dan belum mampu memberikan dorongan maksimal bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

