JAKARTA, Holopis.com – BI Rate naik jadi 5,50 persen dan cicilan KPR berpotensi ikut membengkak sehingga tekanan ekonomi makin terasa dan kelas menengah mulai waswas.
Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada Kamis (11/6/2026).
Kebijakan ini ditempuh sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama untuk meredam tekanan inflasi serta mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global dan potensi kenaikan harga energi.
Kenaikan suku bunga ini mulai memunculkan kekhawatiran di sektor properti karena berpotensi langsung memengaruhi besaran cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang dibayar masyarakat setiap bulan.
Di tengah kondisi tersebut, Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menilai bahwa dampak kenaikan BI Rate tidak berdiri sendiri, melainkan muncul dari kombinasi tekanan ekonomi yang terjadi secara bersamaan.
“Dampak terbesar bukan hanya dari suku bunga, tetapi kombinasi dengan kenaikan biaya hidup yang terjadi bersamaan. Ini yang menekan daya beli masyarakat,” ujar Ferry.
Ia menambahkan, kelompok kelas menengah menjadi segmen yang paling rentan terdampak karena sangat bergantung pada pembiayaan KPR untuk memiliki rumah pertama.
Kenaikan BI Rate ke level 5,50% mendorong naiknya biaya dana perbankan atau cost of fund.
Kondisi ini membuka ruang bagi bank untuk menyesuaikan suku bunga kredit, termasuk KPR.

Jika penyesuaian terjadi, maka cicilan rumah berpotensi ikut meningkat, terutama bagi debitur dengan skema bunga mengambang (floating rate).
Dampaknya bisa langsung terasa pada kenaikan pengeluaran bulanan rumah tangga, yang pada akhirnya mempersempit ruang konsumsi masyarakat.
Bagi kelas menengah, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri.
Sebagian besar pembelian rumah di segmen ini masih mengandalkan fasilitas KPR jangka panjang.
Ketika bunga naik, beban cicilan otomatis ikut meningkat dan menyerap porsi pendapatan yang lebih besar.
Berbeda dengan kelompok atas yang relatif lebih kuat secara finansial dan banyak melakukan pembelian tunai, kelas menengah memiliki ruang fiskal yang lebih terbatas.
Dalam situasi tertentu, tekanan ini dapat membuat sebagian masyarakat menunda rencana pembelian rumah atau melakukan penyesuaian ulang terhadap rencana keuangan mereka.
Dari sisi industri, kenaikan suku bunga biasanya berdampak pada perlambatan permintaan properti.
Calon pembeli cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian di tengah biaya kredit yang meningkat.
Selain itu, pengembang juga menghadapi tekanan dari sisi biaya pendanaan proyek yang ikut naik.
Hal ini membuat sejumlah pelaku industri lebih selektif dalam meluncurkan proyek baru, sambil menjaga agar harga hunian tetap berada dalam jangkauan daya beli masyarakat.
Meski demikian, kenaikan sebesar 25 basis poin ini masih dinilai dalam kategori moderat dan belum mengubah fundamental pasar properti secara drastis, melainkan lebih pada perlambatan laju transaksi.
Ferry kembali menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan hanya berasal dari suku bunga, tetapi juga dari tekanan biaya hidup yang meningkat secara bersamaan.
Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, daya beli masyarakat berpotensi melemah secara bertahap, terutama di segmen hunian menengah yang paling sensitif terhadap perubahan bunga kredit.
Dalam situasi ini, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan rumah tangga.
Menunda kredit konsumtif baru, menjaga rasio cicilan terhadap pendapatan, serta menyiapkan dana darurat menjadi langkah yang dinilai penting untuk menjaga stabilitas finansial.
Sementara itu, pelaku industri perbankan dan properti didorong untuk menghadirkan skema pembiayaan yang lebih fleksibel, seperti tenor panjang atau bunga tetap dalam periode tertentu, guna menjaga daya beli tetap terjaga di tengah kondisi suku bunga yang lebih tinggi.
Kenaikan BI Rate ini menegaskan fokus kebijakan moneter pada stabilitas ekonomi, namun dampaknya mulai terasa nyata di level rumah tangga melalui potensi kenaikan cicilan dan meningkatnya tekanan keuangan pada kelas menengah.


