HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto untuk kesekian kalinya menyinggung latar belakang pendidikan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang dianggap tidak jelas.
Kali ini Presiden Prabowo menyampaikan hal tersebut justru dalam perayaan ulang tahun sekaligus peluncuran buku Bahlil pada Jumat (7/8).
“Pak Bahlil, saya kira sekolahnya nggak terlalu terkenal, Pak Bahlil. Kalau dicari di Google, kampusnya sudah ngga ada,” kata Presiden Prabowo dalam pernyataannya yang dikutip Holopis.com.
Meski demikian, Presiden Prabowo menyebut sosok Bahlil terbilang orang yang cerdas. Kondisi tersebut diyakini Presiden karena turunan dari orang tua Bahlil.
“Itu sudah kita buktikan di mana-mana ya. Tidak menjamin sekolahnya di mana. Kecerdasan itu mungkin didapat dari, jelas, dari orang tua,” ucapnya.
Saking pandainya, Prabowo bahkan membawa masa lalu ketika Bahlil berhasil membuat seorang Jokowi bisa tertawa.
“Saya perhatikan, ini beliau orang Indonesia Timur tapi pandai. Kalau aku lihat, beliau bisa bikin Pak Jokowi ketawa. Orang Solo itu susah ketawa sebenarnya. Orang Solo itu kalem,” ucapnya.
Sebelumnya diberitakan, Presiden Prabowo Subianto mengaku sempat mempertanyakan alasan Jokowi pernah mempercayakan jabatan Menteri Investasi dan Kepala BKPM kepada seorang Bahlil Lahadalia.
Hal itu disampaikan Presiden Prabowo di hadapan Bahlil saat perayaan HUT Golkar di Kawasan Sentul, Jawa Barat pada Kamis (12/12).
Dimana Presiden mulanya menyinggung tidak terlalu kenal lama dengan Bahlil yang pernah berseberangan dengan dirinya di Pilpres 2019.
“Hadir hari ini saya melihat semangat yang baik terutama dari Ketum saudara, Ketum baru, beliau saya kenal juga tidak lama baru-baru saja kita kenal, baru, baru. Karena waktu 2019 sepertinya saudara berada di tim yang lain,” ucap Presiden Prabowo Subianto.
Meski mengaku baru mengenal, Presiden Prabowo pun memantau gerak-gerik Bahlil selama di kabinet bersama dirinya. Meskipun kemudian di dalam hatinya Presiden mempertanyakan latar belakang seorang Bahlil bisa menjadi seorang menteri.
“Serius ini. Waktu saya gabung dengan pak Jokowi di kabinet, saya agak aneh juga beliau dipilih jadi menteri investasi. Biasanya menteri investasi lulusan di universitas Amerika, iya kan? Harvard, atau Standford, atau Berkeley, kalau gak Amerika minimal Inggris lah Oxford, Cambrige, atau Sorbon,” bebernya.


