HOLOPIS.COM, WONOSOBO – Sensasi berlari menembus kabut tipis di ketinggian ekstrem dan melintasi kawasan vulkanik purba menjadi magnet utama dalam gelaran bergengsi Dieng Caldera Race 2026 di Wonosobo, Jawa Tengah.
Ajang lari lintas alam (trail run) yang berlangsung pada Minggu (21/6/2026) ini sukses menarik perhatian ribuan pelari dari berbagai penjuru tanah air hingga mancanegara untuk menaklukkan jalur ekstrem di Dataran Tinggi Dieng.
Berpusat di kawasan sejuk Perkebunan Teh Tambi, para peserta ditantang untuk menembus batas ketahanan fisik mereka sembari disuguhi lanskap magis khas pegunungan vulkanik Jawa Tengah yang memukau.
Keunikan ajang tahun ini terletak pada rutenya yang melintasi empat kategori menantang, mulai dari rute pemula 10K, kelas menengah 25K dan 45K, hingga kategori ultra-maraton sejauh 85K yang menguras tenaga.
Sepanjang jalur lari, mata para peserta dimanjakan oleh pemandangan menakjubkan dari hamparan hijau Kebun Teh Tambi, jalur terjal kaki Gunung Sindoro, keindahan Puncak Sikendil, hingga eksotisme Gunung Sibuthak.
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mengapresiasi tinggi keunikan ajang ini yang dinilai sukses menyajikan pengalaman olahraga tak terlupakan dengan latar keindahan alam yang luar biasa.
“Caldera Race lebih dari sekadar ajang lari, melainkan pengalaman yang memadukan olahraga, alam, dan budaya dalam satu rangkaian yang berkesan,” ujar Ni Luh Puspa saat memberikan penghargaan kepada para pelari di Wonosobo.
Selain menjadi ujian fisik bagi para pelari, kehadiran ribuan pengunjung dan suporter di lereng Dieng ini juga secara instan mengubah denyut nadi perekonomian masyarakat lokal.
Dampak langsung tersebut sangat dirasakan oleh sektor akomodasi, di mana seluruh fasilitas penginapan dan homestay di sekitar Wonosobo dilaporkan terisi penuh oleh para pelari serta wisatawan selama akhir pekan.
Kondisi okupansi yang melonjak tajam ini mendapat sorotan positif dari Kementerian Pariwisata karena membuktikan sport tourism mampu menjadi katalis investasi baru, termasuk masuknya sektor perhotelan ke daerah.
“Inilah salah satu bukti nyata bahwa penyelenggaraan event mampu menggerakkan ekonomi daerah, meningkatkan okupansi penginapan, serta membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM setempat,” tambah Wamenpar Ni Luh Puspa.
Tidak hanya fokus menyelesaikan garis finis, para peserta dan keluarga mereka juga memanfaatkan momen akhir pekan ini untuk mengeksplorasi warisan sejarah yang ada di sekitar area perlombaan.
Salah satu destinasi favorit pasca-lomba adalah agrowisata Pabrik Teh Tambi, tempat para pelari dapat mempelajari proses pengolahan teh secara langsung dari pabrik bersejarah yang berdiri sejak masa kolonial Belanda.
Wamenpar merekomendasikan destinasi edukasi bersejarah ini sebagai agenda wajib bagi para pelari karena menghadirkan pengalaman liburan keluarga yang lengkap setelah lelah berkompetisi.
Melalui sinergi erat antara Kementerian Pariwisata dan Pemerintah Kabupaten Wonosobo, ajang tahunan ini diharapkan terus konsisten mempromosikan keindahan bentang alam Indonesia ke mata dunia internasional.

