HOLOPIS.COM, JAKARTA – Fenomena kekurangan air bersih terus dialami oleh sejumlah warga baik yang ada di Pulau Jawa, bahkan hingga ke Nusa Tenggara Barat.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan, seperti di Kabupaten Klaten, BPBD telah lakukan pendistribusian air bersih berjumlah 60.000 liter atau 12 tangki air, kepada warga yang berada di Kecamatan Kemalang.
“Pengiriman air ini sebagai tindak lanjut dari sulitnya warga untuk mendapatkan air bersih karena musim kemarau. Situasi tersebut menyebabkan berkurangnya debit air pada sumber air bersih yang digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Minggu (21/6).
Bencana kekeringan juga melanda wilayah Kabupaten Bekasi Jawa Barat sejak awal Juni 2026. Wilayah terdampak antara lain Desa Nagasari, Kecamatan Serang Baru, dan Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah.
Merespons hal itu, BPBD Kabupaten Bekasi mendistribusikan air bersih sebanyak 10.000 liter ke dua desa terdampak tersebut.
Sementara itu, kejadian serupa turut melanda wilayah Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. BPBD Kabupaten Bima melakukan distribusi air bersih sebanyak 10.000 liter air kepada warga yang berada di Desa Bajo, Kecamatan Soromandi.
“Hal ini dilakukan untuk mengurangi dampak kekeringan dan kesulitan air bersih yang dialami warga,” ujarnya.
Abdul menambahkan, BPBD Kabupaten Banjarnegara mendistribusikan empat tangki air dengan volume per tangki sebanyak 5.000 liter pada Sabtu (20/6). Pendistribusian ini dilakukan karena warga Desa Serang, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah, mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
“Hal ini terjadi setelah terjadinya kemarau sejak awal Juni 2026,” imbuhnya.
Menanggapi banyaknya fenomena kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, Abdul mengimbau kepada warga untuk menghemat dan memprioritaskan pemanfaatan air bersih dengan bijak, selain itu warga dapat menyediakan tempat penampungan air hujan untuk mengantisipasi berkurangnya sumber air bersih. Kemudian, bagi pemerintah daerah agar melakukan pencegahan dan penanganan kekeringan dengan cara membuat embung atau tempat penampungan air berskala besar sebagai cadangan air bagi warga.
Sementara itu menyikapi fenomena kebakaran hutan dan lahan, warga diimbau untuk tidak melakukan pembakaran sampah di lahan yang kering dan lakukan pengelolaan sampah dengan bijak.
“Warga diharap tidak membuka lahan dengan cara membakar karena api dapat menyambar ke lahan yang ada di sekitarnya sehingga menyebabkan kebakaran cukup masiv. Bagi pemerintah daerah agar rutin melakukan sosialisasi guna mencegah kebakaran terjadi,” imbaunya.

