PBB : Serangan Pemukim Israel di Tepi Barat Tembus 1.000 Kasus Sepanjang 2026

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan jumlah serangan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat terus meningkat sepanjang tahun ini. Hingga awal Juni 2026, insiden yang menyebabkan korban jiwa, luka-luka, maupun kerusakan properti telah melampaui 1.000 kasus.

Data tersebut disampaikan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) dalam laporan terbarunya yang dirilis pada Kamis (11/6). Menurut OCHA, kekerasan yang dilakukan pemukim telah berdampak pada lebih dari 230 komunitas Palestina di berbagai wilayah Tepi Barat.

“Lebih dari 2.200 warga Palestina mengungsi tahun ini akibat kekerasan yang dilakukan pemukim dan berbagai pembatasan akses lainnya, di samping ratusan orang lainnya yang mengungsi akibat penghancuran rumah oleh otoritas Israel,” kata OCHA, dikutip Holopis.com, Jum’at (12/6).

Badan PBB tersebut menyebut situasi semakin mengkhawatirkan dalam beberapa pekan terakhir. Hanya dalam sepekan terakhir, lebih dari 30 warga Palestina dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan pemukim.

“Pekan lalu, serangan pemukim mengakibatkan lebih dari 30 warga Palestina terluka dan menimbulkan kerusakan luas terhadap properti, infrastruktur penting, serta mata pencaharian,” lanjut OCHA.

Menurut lembaga tersebut, rata-rata terjadi enam serangan per hari yang menyebabkan korban atau kerusakan properti. Angka itu disebut menjadi yang tertinggi sejak pencatatan serupa dilakukan.

- Advertisement -

Di tengah meningkatnya ketegangan, OCHA bersama sejumlah organisasi kemanusiaan terus menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak, terutama di Area C, Yerusalem Timur, dan wilayah lain yang tidak dapat dilayani langsung oleh Otoritas Palestina.

Sementara itu, Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan lebih dari 300 ribu warga di Tepi Barat menerima bantuan pangan dan tunai sepanjang Mei 2026.

OCHA juga mengungkapkan sejumlah fasilitas kesehatan di Tepi Barat mulai mengalami kesulitan operasional akibat keterbatasan obat-obatan, perlengkapan medis, serta pembatasan akses yang diberlakukan otoritas setempat. Kondisi tersebut memaksa beberapa pusat layanan kesehatan mengurangi jam operasional mereka.

Di Jalur Gaza, situasi kemanusiaan juga masih menjadi perhatian. Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan satu dari dua petugas ambulans yang sempat ditahan pada Rabu (10/6) telah dibebaskan, sementara satu orang lainnya masih belum diketahui keberadaannya.

Selain itu, mitra kemanusiaan PBB yang bergerak di bidang penanganan ranjau melaporkan telah melakukan puluhan penilaian risiko bahan peledak sepanjang pekan pertama Juni, termasuk mendukung pembersihan puing-puing dan kegiatan edukasi bagi warga mengenai bahaya sisa-sisa bahan peledak.

Di sektor kesehatan, mitra gizi PBB memeriksa lebih dari 77 ribu anak berusia enam hingga 59 bulan selama Mei. Hasilnya, lebih dari 4 persen anak yang diperiksa teridentifikasi mengalami malnutrisi akut dan dirujuk untuk mendapatkan perawatan.

Sementara itu, dari lebih dari 53 ribu perempuan hamil dan menyusui yang menjalani pemeriksaan, sedikit di atas 3 persen di antaranya juga membutuhkan penanganan medis lanjutan akibat masalah gizi.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Darin Brenda Iskarina
Darin Brenda Iskarina
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU