Dirjen KSDAE, Satyawan menyampaikan arahan Menteri Kehutanan dan apresiasi kepada Yayasan Paseban, BBKSDA Jawa Barat, Perum Perhutani, Lembaga Konservasi, pemerintah daerah, akademisi, masyarakat, dan berbagai pihak yang telah menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga kelestarian alam di Lanskap Megamendung.
“Upaya konservasi memerlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Apa yang dilakukan di Megamendung menunjukkan bahwa pelestarian keanekaragaman hayati, pemulihan ekosistem, dan pembangunan yang berkelanjutan dapat berjalan secara selaras,” ujar Satyawan.
Pembina Yayasan Paseban, Andy Utama, menyampaikan bahwa upaya yang dilakukan di Megamendung merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk memulihkan fungsi ekologis kawasan.
“Kami memiliki cita-cita sederhana namun besar, yaitu turut berkontribusi mengembalikan Megamendung sedekat mungkin dengan kondisi ekologisnya sebagaimana pernah dikenal sekitar seratus tahun yang lalu. Mungkin kita tidak dapat mengembalikan masa lalu sepenuhnya, tetapi kita dapat memulihkan fungsi-fungsi ekologisnya, memperkuat habitat satwa liar, menjaga sumber air, dan mewariskan bentang alam yang lebih baik kepada generasi berikutnya,” ujar Andy Utama.
Sementara itu, Penasihat Yayasan Paseban, Wiratno, menekankan pentingnya Megamendung sebagai bagian dari bentang alam yang lebih luas.
“Megamendung memiliki arti yang jauh melampaui batas administratifnya. Kawasan ini merupakan bagian penting dari bentang alam yang terhubung dengan Cagar Biosfer Cibodas dan berperan dalam menjaga fungsi ekologis yang manfaatnya dirasakan hingga wilayah hilir. Di tengah tekanan pembangunan yang terus meningkat, keberadaan kawasan seperti ini menjadi semakin relevan untuk dijaga,” ujarnya.
Lanskap Megamendung memiliki posisi yang sangat strategis dalam konteks konservasi di Pulau Jawa. Kawasan ini merupakan bagian penting dari bentang alam yang terhubung dengan Cagar Biosfer Cibodas. Dalam konsep cagar biosfer, keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh kawasan inti, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kawasan penyangga dan zona transisi yang menopang keseluruhan sistem ekologis.
Lanskap Megamendung juga masih menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati yang penting bagi Pulau Jawa. Berbagai hasil pemantauan biodiversitas mencatat keberadaan sejumlah spesies kunci seperti Elang Jawa, Surili Jawa, Owa Jawa, Lutung Jawa, Trenggiling Sunda, Banded Linsang, Garangan, Landak Jawa, serta berbagai jenis burung hutan lainnya. Kehadiran spesies-spesies tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini masih mempertahankan fungsi ekologis yang penting sebagai habitat satwa liar dan refuge area di tengah tingginya tekanan pembangunan di Jawa Barat.


