Sementara itu, Jamarr Johnson menyoroti bahwa perjalanan seorang student-athlete tidak terlepas dari konsistensi, disiplin, dan kemampuan untuk terus berkembang di dalam maupun di luar lapangan.
“Perjalanan sebagai atlet bukan hanya soal bakat, tetapi tentang konsistensi, kerja keras, dan kemampuan untuk bangkit dari masa sulit. Saya menempuh pendidikan di sini sebagai langkah untuk membuka peluang ke luar negeri. Saya percaya, atlet Indonesia memiliki kemampuan besar untuk berkembang dan bersaing di luar negeri. Kesempatan itu sudah ada, tinggal bagaimana kita berani mengambilnya dan memaksimalkan potensi yang dimiliki,” ujar Jamarr.
Jamarr yang merupakan mantan atlet basket Tim Indonesia keturunan New Jersey, Amerika Serikat itu juga menambahkan bahwa pengalaman internasional menjadi faktor penting dalam membentuk mentalitas dan kesiapan atlet dalam menghadapi kompetisi global.
“Atlet muda Indonesia harus percaya diri, tetapi juga harus siap bekerja keras dan membangun kebiasaan yang baik dan benar. Passion bisa menjadi profesi, jika dijalani dengan disiplin dan kemauan untuk terus belajar,” tambahnya.
Di sisi lain, Olympian Akbar Nasution memberikan perspektif sebagai atlet yang telah merasakan langsung kompetisi di level tertinggi dunia. Ia menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi penting dalam perjalanan seorang atlet.
“Membawa nama Indonesia di level internasional adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar. Prestasi tidak dibangun dalam semalam, tetapi dari rutinitas harian, disiplin, dan mentalitas jangka panjang,” ujar Akbar.
“Melalui konsep student athlete, kita memastikan bahwa atlet memiliki bekal tidak hanya untuk berprestasi, tetapi juga untuk kehidupan setelah karier olahraga. Inilah investasi jangka panjang bagi masa depan atlet dan bangsa,” tutupnya.


