HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah menaruh optimisme besar terhadap pergerakan nilai tukar rupiah pada paruh kedua tahun 2026. Meski masih menghadapi tekanan akibat gejolak ekonomi global, pemerintah meyakini rupiah akan kembali menguat secara bertahap seiring membaiknya kondisi pasar keuangan dan meningkatnya arus modal asing ke Indonesia.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah pada awal Juni 2026 dipengaruhi oleh sentimen global, kondisi pasar yang cenderung menghindari risiko (risk-off), serta tekanan pada transaksi berjalan dan transaksi finansial domestik.
Namun demikian, pemerintah menilai berbagai kebijakan yang telah dijalankan mulai menunjukkan hasil positif.
“Maka rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada semester II tahun 2026,” ujar Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Selasa (10/6/2026).
Menurutnya, optimisme tersebut didukung oleh meningkatnya kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Kondisi itu terlihat dari derasnya aliran modal asing yang masuk ke instrumen keuangan domestik.
Data Kementerian Keuangan mencatat, sepanjang periode 1 April hingga 5 Juni 2026, Surat Berharga Negara (SBN) membukukan net inflow Rp18,5 triliun, sementara Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencatat net inflow Rp78,5 triliun.
“Arus modal asing juga menunjukkan perbaikan yang signifikan pada triwulan II tahun 2026, terutama pada instrumen SBN dan SRBI. Meskipun pasar saham masih mencatat outflow, namun secara keseluruhan minat investor terhadap instrumen keuangan domestik masih tetap terjaga,” tambahnya.
Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai langkah strategis.
Bank Indonesia akan melanjutkan intervensi di pasar valuta asing, memperkuat instrumen SRBI, menjaga likuiditas perbankan, serta meningkatkan pengawasan terhadap transaksi dolar AS di dalam negeri.
Selain itu, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada Mei dan 25 basis poin pada Juni guna menjaga daya tarik investasi di Indonesia dan mendorong masuknya modal asing.
Pemerintah juga berharap kebijakan pengelolaan Devisa Hasil Ekspor (DHE) serta pendalaman pasar keuangan dapat memperkuat pasokan valuta asing nasional. Jika seluruh kebijakan berjalan efektif, stabilitas rupiah diyakini akan semakin terjaga hingga akhir tahun.


