JAKARTA – Dokter ungkap cara aman menikmati sate dan gulai daging kurban tanpa khawatir kolesterol naik, asal tahu porsi dan cara olah yang tepat.
Momen Idul Adha memang identik dengan melimpahnya daging kurban.
Dari sate kambing yang ngebul, sampai gulai sapi yang gurih santan, semuanya bikin selera naik level.
Tapi di balik nikmatnya, banyak orang langsung kepikiran hal yang sama: kolesterol naik, tekanan darah melonjak, sampai takut makan daging berlebihan.
Tenang dulu, kabar baiknya, kamu tetap bisa menikmati sate dan gulai tanpa harus overthinking soal kolesterol, asal tahu cara dan batas amannya.
Dokter spesialis gizi klinik lulusan Universitas Indonesia, dr. Pande Putu Agus Mahendra, M.Gizi, Sp.GK, menjelaskan konsumsi daging sapi maupun kambing sebenarnya masih aman, bahkan untuk penderita hipertensi, selama tidak berlebihan.
“Batasan umum yang dianggap aman sekitar 75–100 gram per porsi untuk asupan hewani,” ujarnya.
Artinya, bukan berarti dilarang total, tapi lebih ke pengendalian jumlah dalam sekali makan. Jadi, kalau kamu lagi “kalap kurban”, ada baiknya mulai belajar rem.
Pande juga mengingatkan pentingnya keseimbangan saat makan daging. Jangan cuma fokus di sate dan gulai saja, tapi tambahkan sayur sebagai penyeimbang.
Sayuran seperti tomat, wortel, lobak, hingga bawang-bawangan bisa membantu memberikan efek antioksidan yang baik untuk tubuh.
Kombinasi ini membantu tubuh mengolah lemak lebih seimbang, apalagi bagi yang punya risiko penyakit metabolik.
Selain itu, konsumsi air putih juga jangan dilupakan.
Kedengarannya sepele, tapi ini penting untuk membantu metabolisme tubuh tetap stabil setelah makan makanan tinggi protein dan lemak.
Bukan cuma soal porsi, cara memasak juga ternyata punya peran besar dalam menentukan sehat atau tidaknya makanan kurban.
Pande menyarankan untuk menghindari bagian daging yang terlalu berlemak serta organ dalam seperti jeroan.
Selain itu, metode memasak juga perlu diperhatikan.
“Sebisa mungkin hindari dibakar langsung di atas api karena bisa merusak komponen protein dan menghasilkan zat yang kurang baik untuk tubuh,” jelasnya.
Nah, ini yang sering kejadian saat Idul Adha adalah sate dibakar terlalu gosong, atau daging dipanggang sampai hangus demi “rasa smoky”.
Padahal, di balik aroma itu bisa ada risiko kesehatan yang tidak disadari.
Menu lain yang juga jadi favorit saat Idul Adha adalah gulai.
Kuah santan yang gurih memang susah ditolak, apalagi kalau disantap bareng nasi panas.
Pande mengingatkan, konsumsi makanan bersantan sebaiknya tidak dilakukan terus-menerus dalam beberapa hari berturut-turut.
Apalagi jika menggunakan santan instan yang cenderung tinggi natrium.
Kalau dikonsumsi berlebihan, santan bisa memicu peningkatan asupan lemak dan berdampak pada keseimbangan kolesterol tubuh.
Bahkan, kebiasaan menghangatkan ulang makanan bersantan juga disarankan untuk dihindari terlalu sering karena bisa mengubah kualitas lemaknya.
Menariknya, pakar gizi dari Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi, menegaskan bahwa masalah kolesterol saat Idul Adha bukan semata karena daging.
Menurutnya, yang sering jadi pemicu justru kombinasi pola makan yang tidak seimbang: terlalu banyak garam, santan, gorengan, kurang serat, kurang minum air, sampai kurang tidur.
“Lonjakan kolesterol atau tekanan darah itu biasanya hasil gabungan banyak faktor, bukan hanya daging,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa konsumsi berlebihan dalam waktu singkat bisa memicu lonjakan trigliserida dan beban metabolisme tubuh.
Tapi efek jangka panjang lebih berbahaya jika pola makan tidak berubah.
Meski begitu, Idul Adha tetap punya makna penting secara sosial dan gizi.
Daging kurban justru menjadi sumber protein berkualitas yang membantu banyak keluarga memenuhi kebutuhan gizi harian.
Karena itu, pendekatannya bukan melarang makan daging, tapi mengatur cara konsumsi agar tetap sehat.
Mahmud menyarankan konsep sederhana: isi piring seimbang.
Sekitar sepertiga piring untuk sayur dan buah, batasi santan dan gorengan, pilih teknik masak seperti rebus atau kukus, serta tetap aktif bergerak.
“Kalau hanya sesekali saat hari raya, itu tidak masalah selama tidak berlebihan,” katanya.
Makan sate tetap boleh, gulai juga boleh, bahkan menikmati momen Idul Adha memang bagian dari kebahagiaan.
Tapi jangan sampai “balas dendam makan daging” bikin tubuh kaget.
Kuncinya ada di porsi, cara masak, dan keseimbangan menu.
Jadi kamu tetap bisa nikmatin sate kambing tanpa harus dihantui bayang-bayang kolesterol naik drastis.
Intinya, makan enak boleh, tapi jangan lupa kendali.
Karena yang berlebihan, bukan cuma bikin dompet tipis, tapi juga bisa bikin tubuh protes diam-diam.


