HOLOPIS.COM, JAKARTA – Direktur Jenderal World Health Organization Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan lebih dari 900 kasus suspek Ebola telah teridentifikasi di Republik Demokratik Kongo.
Dalam pernyataannya pada Minggu (24/5), Tedros mengatakan sejauh ini terdapat 101 kasus Ebola yang telah terkonfirmasi di negara tersebut.
Provinsi Ituri disebut menjadi pusat penyebaran wabah. Namun kondisi keamanan di wilayah tersebut dinilai semakin menyulitkan penanganan penyakit mematikan itu.
Menurut Tedros, hampir lima juta orang di Ituri hidup di tengah konflik berkepanjangan. Ia menyebut satu dari empat warga membutuhkan bantuan kemanusiaan, sementara satu dari lima orang menjadi pengungsi di negaranya sendiri.
“Kekerasan memaksa banyak orang melarikan diri, termasuk tenaga kesehatan dan pekerja kemanusiaan,” ujar Tedros melalui unggahan di X, dikutip Holopis.com, Senin (25/5).
Ia mengatakan situasi tersebut sangat menghambat pelacakan kontak Ebola dan memperlambat identifikasi kasus sejak dini agar pasien bisa segera mendapatkan perawatan.
Tedros juga menyoroti kondisi ketidakamanan dan rasa takut yang terus berlangsung hingga memicu ketidakpercayaan masyarakat terhadap penanganan wabah.
Meski begitu, WHO bersama berbagai mitra kemanusiaan disebut tetap bertahan di wilayah Ituri, termasuk di daerah yang paling sulit dijangkau dan rawan konflik.
“Masyarakat di sana bukan hanya menghadapi ancaman Ebola, tetapi juga berbagai penyakit lainnya,” kata Tedros.
Ia menegaskan penyediaan layanan kesehatan yang menyeluruh sangat penting, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan medis darurat, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat agar respons Ebola berjalan efektif.
Sebelumnya pada 16 Mei, WHO menetapkan wabah Ebola akibat virus Bundibugyo di RD Kongo dan Uganda sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional atau PHEIC.
WHO kemudian meningkatkan penilaian risiko Ebola di RD Kongo menjadi “sangat tinggi” di tingkat nasional pada 22 Mei, meski risiko global masih dikategorikan rendah.


