JAKARTA, Holopis.com – Harga avtur di Bandara Soetta melonjak tajam hingga nyaris 100 persen, Susi Pudjiastuti ikut buka suara.
Kenaikan harga avtur di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Bandara Soetta) tengah jadi sorotan.
Dalam waktu singkat, harga bahan bakar pesawat itu dilaporkan naik drastis hingga mendekati dua kali lipat.
Situasi tersebut memicu perhatian publik, termasuk dari mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti.
Perbincangan soal avtur ramai di media sosial setelah beredar data kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir.
Pada Maret 2026, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta masih berada di kisaran Rp 13 ribuan per liter.
Namun memasuki April 2026, nilainya melonjak tajam menjadi lebih dari Rp 23 ribu per liter.
Kenaikan kembali terjadi pada Mei 2026 hingga menyentuh angka Rp 27 ribu per liter.
Lonjakan tersebut membuat publik mempertanyakan penyebab naiknya harga bahan bakar penerbangan dalam waktu relatif singkat.
Banyak warganet menilai kenaikan kali ini terasa tidak biasa karena selisihnya cukup besar dibanding periode sebelumnya.
Nama Susi Pudjiastuti kemudian ikut jadi perhatian setelah memberikan tanggapan terkait kondisi tersebut.
Pemilik maskapai Susi Air itu menyebut harga avtur di Indonesia memang sejak lama mengikuti pergerakan harga internasional.
Menurut Susi, ketika harga global mengalami kenaikan, penyesuaian di dalam negeri biasanya ikut bergerak cepat tanpa harus menunggu keputusan pemerintah.
“Harga avtur memang selalu ikut harga internasional dari dulu,” tulis Susi dalam komentarnya yang ramai dibagikan ulang di media sosial.
Ia juga menjelaskan bahwa pembaruan harga avtur umumnya dilakukan secara berkala dalam hitungan minggu.
Namun kali ini, kenaikannya disebut jauh lebih tinggi dibanding biasanya.
Susi bahkan menyebut lonjakan harga avtur kali ini mendekati 100 persen.
Pernyataan itu langsung memicu banyak respons dari masyarakat, terutama pengguna jasa penerbangan.
Sebagian warganet mengaku khawatir harga tiket pesawat akan ikut terdorong naik apabila biaya bahan bakar terus meningkat.
Sebab, avtur merupakan salah satu komponen terbesar dalam operasional maskapai.
“Kalau avtur naik terus, tiket pasti ikut mahal,” tulis seorang pengguna media sosial.
Komentar lain juga menyinggung kondisi tiket penerbangan domestik yang belakangan dinilai masih tinggi di sejumlah rute.
Selain soal lonjakan harga, publik juga menyoroti perbandingan harga avtur Indonesia dengan negara lain di Asia Tenggara.
Berdasarkan data yang ramai dibahas, harga avtur di Indonesia disebut lebih tinggi dibanding Singapura, Malaysia, hingga Thailand.
Selisih harga itu disebut mencapai sekitar 28 persen lebih mahal dibanding negara-negara tetangga.
Kondisi tersebut kembali memunculkan diskusi lama soal biaya operasional penerbangan di Indonesia yang dinilai belum kompetitif.
Bandara Bandara Internasional Soekarno-Hatta sendiri menjadi pusat perhatian karena merupakan bandara dengan lalu lintas penerbangan paling padat di Indonesia.
Kenaikan harga avtur di bandara tersebut dinilai berpotensi berdampak luas terhadap industri penerbangan nasional.
Sejauh ini belum ada keterangan resmi terbaru terkait kemungkinan penyesuaian tarif penerbangan akibat lonjakan harga avtur tersebut.
Namun isu ini diperkirakan masih akan terus menjadi perhatian, terutama menjelang periode libur panjang dan meningkatnya mobilitas masyarakat lewat jalur udara.

