JAKARTA – Kolaborasi Swatch x Audemars Piguet Royal Pop bikin heboh karena ternyata bukan jam tangan biasa, melainkan aksesori unik yang viral global.
Kolaborasi dua raksasa industri horologi asal Swiss, Swatch dan Audemars Piguet kembali menghebohkan dunia setelah meluncurkan koleksi “Royal Pop” yang langsung viral di berbagai negara.
Namun yang mengejutkan, produk yang awalnya dikira jam tangan mewah ini ternyata bukan jam tangan konvensional, melainkan jam saku modern dengan fungsi fleksibel yang bisa digunakan sebagai aksesori gaya hidup.
Peluncuran yang dilakukan pada 16 Mei 2026 itu langsung memicu antrean panjang di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Uni Emirat Arab, India hingga Australia.
Antusiasme tinggi membuat sejumlah toko Swatch bahkan sempat membatasi jumlah pengunjung demi alasan keamanan.
Berbeda dari ekspektasi publik yang sempat mengira kolaborasi ini akan menghadirkan versi terjangkau dari Royal Oak, kenyataannya Swatch dan Audemars Piguet justru menghadirkan sesuatu yang jauh lebih eksperimental.
“Royal Pop” dirancang sebagai jam saku modern dengan desain pop art yang penuh warna.
Bentuknya tidak seperti jam tangan pada umumnya, melainkan lebih menyerupai aksesori fashion yang bisa dibawa dengan cara unik.
Banyak penggemar awalnya dibuat kaget karena desain yang beredar di media sosial sebelum peluncuran ternyata tidak sesuai dengan produk asli yang dirilis.
Hal yang membuat Royal Pop menjadi sorotan utama adalah fleksibilitas penggunaannya.
Produk ini tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk waktu, tetapi juga dirancang sebagai aksesori gaya hidup multifungsi.
Pengguna dapat menggunakannya dengan berbagai cara, seperti digantung di tas, dipakai sebagai kalung, hingga diletakkan di meja menggunakan dudukan khusus yang tersedia dalam paket penjualan.
Konsep inilah yang membuat Royal Pop disebut “bukan sekadar jam”, melainkan hybrid antara aksesori fashion dan perangkat horologi modern.
Dari sisi teknis, Royal Pop menggunakan material Bioceramic yang menjadi ciri khas Swatch.
Material ini dikenal ringan namun tetap kuat, sehingga cocok untuk desain eksperimental seperti jam saku modern.
Di dalamnya, jam ini dibekali movement mekanikal SISTEM51 versi manual winding dengan daya tahan hingga 90 jam.
Teknologi ini membuat Royal Pop tetap presisi tanpa mengorbankan sisi estetika desain.
Dengan kombinasi tersebut, Swatch mencoba menghadirkan produk yang tidak hanya fungsional, tetapi juga punya nilai artistik tinggi.
Meski disebut sebagai produk kolaborasi kreatif, harga Royal Pop tetap berada di level premium untuk ukuran Swatch.
Produk ini dibanderol sekitar 400 dolar AS atau setara Rp6–7 juta tergantung model dan negara.
Terdapat beberapa varian, seperti Lepine dan Savonnette, yang masing-masing memiliki perbedaan desain dan aksesori tambahan.
Tingginya antusiasme membuat peluncuran Royal Pop di sejumlah negara berlangsung tidak biasa.
Antrean panjang terjadi sejak dini hari, bahkan di beberapa lokasi sempat terjadi kericuhan kecil akibat membludaknya pengunjung.
Pihak Swatch kemudian mengeluarkan imbauan resmi agar masyarakat tidak datang secara berlebihan ke toko demi menjaga keamanan pelanggan dan staf.
Sebelum dirilis, media sosial sempat dipenuhi rumor bahwa kolaborasi ini akan menghadirkan versi “murah” dari Royal Oak.
Namun kenyataannya justru jauh berbeda, sehingga memicu reaksi beragam dari publik.
Sebagian menyebut desain Royal Pop sebagai inovasi segar yang berani, sementara lainnya menilai produk ini terlalu jauh dari ekspektasi awal.
Meski begitu, hype yang terbentuk justru membuat produk ini semakin diburu.
Bahkan di pasar resale, harga langsung melonjak dalam hitungan jam setelah peluncuran.
Fenomena Royal Pop kembali menunjukkan bagaimana strategi peluncuran terbatas, teaser misterius, dan efek FOMO masih menjadi senjata ampuh di industri fashion dan horologi.
Setelah sukses dengan berbagai kolaborasi sebelumnya, Swatch kembali membuktikan bahwa mereka mampu menciptakan produk yang bukan hanya sekadar barang, tetapi juga fenomena global yang memicu perbincangan luas.
Kini, Royal Pop bukan hanya sekadar jam saku, tetapi sudah menjadi simbol tren baru di dunia fashion modern yang mengaburkan batas antara fungsi, seni, dan gaya hidup.


