Pengamat: Rakyat Desa Memang Tak Pakai Dollar AS, tapi…

0 Shares

JAKARTA – Pengamat menegaskan, meski rakyat desa tidak memakai dolar AS dalam transaksi harian, dampak pelemahan rupiah tetap terasa lewat kenaikan harga kebutuhan pokok.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar AS dalam transaksi sehari-hari kembali jadi sorotan.

Meski secara teknis benar, sejumlah pengamat menilai dampak dolar tetap terasa ke kehidupan masyarakat lewat jalur yang berbeda: harga barang.

Pengamat kebijakan pembangunan Maman Silaban menilai pernyataan tersebut terlalu sederhana jika dipakai untuk membaca kondisi ekonomi rakyat kecil.

“Rakyat desa memang tidak pegang dolar. Tapi harga barang yang mereka beli sangat dipengaruhi dolar,” sebutnya.

Menurutnya, masyarakat desa memang bertransaksi menggunakan rupiah untuk kebutuhan sehari-hari seperti beras, pupuk, solar, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.

- Advertisement -

Namun, banyak komponen barang tersebut masih bergantung pada impor, sehingga pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar ikut memengaruhi harga di tingkat konsumen.

“Petani tidak lihat kurs. Tapi dia tahu pupuk naik. Nelayan tidak ikut pasar valuta asing, tapi tahu solar makin mahal,” tukasnya.

Pengamat menjelaskan, pelemahan rupiah tidak langsung terasa seperti krisis mendadak. Dampaknya muncul bertahap lewat rantai distribusi.

Importir menyesuaikan biaya, distributor menaikkan harga, lalu pedagang eceran ikut mengoreksi harga jual. Ujungnya, masyarakat membayar lebih mahal untuk barang yang sama.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia masih mengandalkan impor untuk bahan baku, energi, hingga barang modal.

Kondisi ini membuat harga di dalam negeri tetap sensitif terhadap pergerakan dolar, terutama untuk komoditas seperti pangan, BBM, dan pupuk.

Meski inflasi nasional tercatat relatif rendah, dampaknya disebut lebih berat dirasakan rumah tangga kecil yang tidak punya ruang untuk menahan kenaikan harga.

Bagi masyarakat desa, kenaikan kecil sekalipun langsung terasa di pengeluaran harian.

Pengamat menegaskan, inti persoalan bukan apakah masyarakat memakai dolar atau tidak, melainkan bagaimana nilai tukar memengaruhi struktur harga di dalam negeri.

“Dolar mungkin tidak ada di tangan rakyat desa, tapi dampaknya ada di harga yang mereka bayar setiap hari,” tulisnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa stabilitas rupiah bukan sekadar urusan pasar keuangan, tapi juga langsung berkaitan dengan daya beli masyarakat di akar rumput.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU