Trump Blak-blakan Bahas Iran dengan Xi Jinping, Selat Hormuz Jadi Sorotan Dunia

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sudah di Beijing untuk menjalani pertemuan penting dengan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan dua pemimpin negara itu dilakukan di tengah memanasnya situasi geopolitik dunia.

Pertemuan Trump dan Xi itu berlangsung setelah upaya Washington selama berminggu-minggu gagal membujuk Beijing membantu meredakan ketegangan Iran dan membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz.

Trump dijadwalkan bertemu Xi pada Kamis dan Jumat dalam kunjungan pertamanya ke China sejak 2017.

Pertemuan tersebut diprediksi membahas sederet isu panas dunia mulai dari perang Iran, perdagangan, penanganan Taiwan, hingga persaingan kecerdasan buatan.

Sebelum bertolak ke Beijing, Trump menegaskan Iran akan menjadi salah satu topik utama yang dibicarakan dengan Xi, meski fokus utamanya tetap pada urusan perdagangan.

Trump mengatakan dirinya akan melakukan “pembicaraan panjang” dengan Xi mengenai Iran.

- Advertisement -

Namun, di balik agenda diplomasi itu, pertemuan ini dinilai jauh lebih besar dibanding sekadar negosiasi dagang biasa.

KTT Trump-Xi menjadi perhatian dunia karena berlangsung di tengah ketidakpastian ekonomi global, rivalitas teknologi, dan meningkatnya ketegangan militer di berbagai kawasan.

Pertemuan ini juga mencatat sejarah karena Trump menjadi presiden AS pertama dalam hampir satu dekade terakhir yang kembali melakukan kunjungan resmi ke China.

Profesor hubungan internasional Universitas Leiden, Salvador Santino Regilme, menilai perdagangan tetap menjadi senjata politik penting bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu AS.

“Perdagangan tetap memiliki kekuatan politik, terutama bagi Trump, karena memberikan persaingan bahasa yang mudah dipahami oleh para pemilih,” kata Regilme dikutip dari Aljazeera, Kamis, (14/5/2026).

Namun, menurutnya, konflik utama antara Washington dan Beijing sebenarnya jauh lebih dalam dibanding urusan tarif dan ekspor-impor.

“Konflik yang lebih dalam menyangkut hierarki, legitimasi, dan arsitektur masa depan tatanan global,” jelas Regilme.

Regilme menilai AS dan China saat ini berada dalam hubungan yang rumit karena saling bersaing sekaligus saling membutuhkan secara ekonomi.

Dia bilang AS masih sangat bergantung pada kapasitas manufaktur dan produksi berbiaya rendah China.

“Sementara China bergantung pada akses ke konsumen AS, teknologi, pasar modal, dan stabilitas yang lebih luas dari ekonomi global yang berpusat pada dolar,” tutur Regilme.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai paradoks rivalitas AS-China.

Menurut dia, hal itu yang jadi paradoks persaingan AS-China. Sebab, masing-masing pihak menginginkan otonomi yang lebih besar.

“Namun, keduanya tetap terikat pada struktur saling ketergantungan yang tidak dapat dengan mudah dibongkar oleh salah satu pihak tanpa merugikan diri sendiri,” ujar Regilme.

Dalam pertemuan ini, Washington diperkirakan akan mendorong China meningkatkan pembelian produk-produk AS seperti pesawat Boeing, daging sapi, dan kedelai.

Sebaliknya, Beijing diyakini bakal menekan AS agar melonggarkan pembatasan ekspor semikonduktor dan teknologi chip canggih ke China.

Selain perdagangan dan teknologi, isu Taiwan juga diperkirakan menjadi salah satu topik paling sensitif dalam pertemuan Trump dan Xi.

Ketegangan terkait Taiwan dalam beberapa tahun terakhir terus menjadi sumber konflik utama antara dua negara adidaya tersebut.

Dunia kini menunggu apakah pertemuan Trump dan Xi mampu meredakan ketegangan global atau justru mempertegas rivalitas baru antara Washington dan Beijing.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Dani Yoga
Dani Yoga
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU