HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah Australia menyatakan kesiapan mereka untuk mendukung misi militer multinasional yang dipimpin Inggris dan Prancis guna menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan di tengah situasi Timur Tengah yang masih memanas dan menimbulkan kekhawatiran terhadap jalur perdagangan internasional.
Misi tersebut disebut bersifat “sepenuhnya defensif” dan difokuskan untuk melindungi lalu lintas kapal di kawasan strategis yang selama ini menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
Menteri Pertahanan Australia Richard Marles mengatakan negaranya siap mengerahkan pesawat pengawas E-7A Wedgetail setelah misi resmi dibentuk.
Pengumuman itu disampaikan Marles usai menghadiri pertemuan para menteri pertahanan dari lebih dari 40 negara yang membahas situasi keamanan global, termasuk ketegangan di Timur Tengah.
Dalam pertemuan tersebut, negara-negara peserta kembali menegaskan dukungan terhadap kebebasan pelayaran di Selat Hormuz yang dianggap sebagai salah satu jalur laut paling penting di dunia.
“Misi militer multinasional ini dirancang untuk melengkapi interaksi diplomatik dan upaya deeskalasi yang sedang berlangsung, sekaligus menunjukkan komitmen nyata terhadap keamanan perdagangan internasional,” kata Marles, dikutip Holopis.com, Rabu (13/5).
Ia juga memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah bisa membawa dampak besar bagi Australia dan negara-negara lain.
“Semakin lama konflik ini berlangsung, semakin besar dampaknya terhadap Australia,” ujarnya.
Menurut Marles, pemerintah Australia akan terus bekerja sama dengan negara-negara mitra untuk mendukung upaya menjaga stabilitas kawasan dan keamanan jalur perdagangan internasional.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Kawasan tersebut selama ini menjadi titik penting bagi distribusi minyak global dan kerap menjadi pusat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.


