Tolak Wacana Donald Trump Caplok Venezuela, Delcy Rodríguez: Kami Bukan Koloni!

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, menyampaikan negaranya tak akan pernah menjadi negara bagian ke-51 Amerika Serikat (AS). Hal itu heboh setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan gagasan kontroversial tersebut.

Omongan Rodríguez itu disampaikan di Mahkamah Internasional (ICJ), Den Haag, Belanda, pada Senin waktu setempat. Ia hadir dalam sidang sengketa wilayah Essequibo antara Venezuela dan Guyana, kawasan kaya minyak dan mineral yang hingga kini masih diperebutkan kedua negara.

Rodríguez dengan tegas membantah kemungkinan Venezuela berada di bawah kedaulatan Washington. Menurutnya, rakyat Venezuela akan terus pertahankan identitas dan kemerdekaan negara mereka.

“Kami akan terus mempertahankan integritas, kedaulatan, kemerdekaan, dan sejarah kami,” kata Rodríguez, Selasa, (12/5/2026).

Ia juga menegaskan bahwa Venezuela bukan wilayah jajahan negara lain. “Venezuela bukan koloni, tetapi negara merdeka,” lanjut Rodriguez.

Pernyataan itu muncul setelah Trump dalam wawancara dengan Fox News mengaku sedang secara serius mempertimbangkan menjadikan Venezuela sebagai negara bagian ke-51 AS.

- Advertisement -

Pernyataan Trump pertama kali diungkap pembawa acara Fox News, John Roberts, melalui media sosial.

Gedung Putih belum beri penjelasan rinci terkait ucapan Trump tersebut. Namun, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan Trump dikenal sebagai sosok yang tidak pernah menerima status quo.

Ia juga memuji hubungan kerja sama antara pemerintah AS dan Rodríguez yang disebut berjalan baik.

Meski menolak keras gagasan Trump, Rodríguez mengungkapkan bahwa komunikasi antara Caracas dan Washington tetap berlangsung. Kedua pihak disebut tengah membangun kerja sama dan saling pengertian di tengah situasi politik yang masih sensitif.

Di sisi lain, Rodríguez juga menggunakan forum ICJ untuk mempertahankan klaim Venezuela atas wilayah Essequibo.

Menurutnya, sengketa panjang itu seharusnya diselesaikan melalui jalur negosiasi politik, bukan lewat putusan pengadilan internasional.

Wilayah Essequibo sendiri mencakup sekitar dua pertiga wilayah Guyana dan dikenal memiliki cadangan emas, berlian, kayu, hingga minyak dalam jumlah besar.

Produksi minyak dari kawasan lepas pantai Guyana bahkan kini mencapai sekitar 900 ribu barel per hari, mendekati produksi Venezuela yang berada di kisaran 1 juta barel per hari.

Perseteruan soal Essequibo sudah berlangsung lebih dari satu abad. Venezuela menganggap wilayah itu bagian dari negaranya sejak era kolonial Spanyol.

Namun, keputusan arbitrase internasional tahun 1899 menetapkan sebagian besar wilayah tersebut berada di bawah Guyana.

Situasi kembali memanas setelah cadangan minyak raksasa ditemukan di kawasan lepas pantai Essequibo. Penemuan itu membuat sengketa perbatasan berubah menjadi perebutan pengaruh geopolitik dan energi di kawasan Amerika Selatan.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Dani Yoga
Dani Yoga
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU