HOLOPIS.COM, JAKARTA – Tantangan perempuan dalam menjaga ketahanan keluarga dinilai semakin besar di tengah perkembangan era digital saat ini. Isu tersebut menjadi sorotan dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (Alppind) yang digelar di Tavia Heritage Hotel, Jakarta Pusat, Jumat (8/5).
Rakernas tahun ini mengangkat tema “Penguatan Peran Perempuan dalam Membangun Ketahanan Keluarga dan Bangsa di Era Digital.” Tema tersebut dipilih karena derasnya arus informasi digital dinilai membawa tantangan baru bagi keluarga, khususnya para ibu dalam mendampingi anak-anak di tengah perkembangan teknologi dan media sosial.
Alppind sendiri merupakan organisasi kemasyarakatan yang menjadi wadah bagi perempuan profesional dari berbagai sektor. Organisasi ini berdiri sejak 2018 dengan fokus pada penguatan ketahanan keluarga dan pemberdayaan perempuan.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Choiri Fauzi yang hadir sebagai keynote speaker menekankan pentingnya peningkatan kapasitas perempuan di era digital.
“Perempuan berperan besar dalam menjaga kesehatan keluarga, pendidikan anak, hingga menopang perekonomian keluarga. Alppind bisa menjadi ruang untuk kolaborasi dan sinergi,” kata Arifah dalam sambutannya, dikutip Holopis.com.

dalam Pembangunan Ketahanan Keluarga/ [Foto: Istimewa]
Ia menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 49,8 persen populasi Indonesia merupakan perempuan. Karena itu, perempuan tidak lagi dapat dipandang sebagai kelompok minoritas dalam pembangunan bangsa.
“Dengan peningkatan kapasitas diri perempuan di era digital ini kita bisa mewujudkan Indonesia sebagai ruang bersama yang ramah anak dan perempuan,” lanjutnya.
Menurut Arifah, literasi digital kini menjadi kebutuhan penting bagi perempuan, terutama karena ibu memiliki peran besar sebagai pendidik utama di lingkungan keluarga. Di satu sisi, dunia digital membuka akses luas terhadap ilmu pengetahuan dan informasi. Namun di sisi lain, media digital juga berpotensi menjadi pintu masuk konten negatif bagi anak-anak.
“Keluarga dan masyarakat diharapkan dapat berperan aktif dalam menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan produktif bagi anak serta perempuan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia. Berdasarkan data tahun 2025, tercatat lebih dari 35 ribu kasus kekerasan, dengan mayoritas korban merupakan perempuan dan anak.
Selain itu, satu dari empat perempuan Indonesia disebut pernah mengalami kekerasan dalam hidupnya, termasuk kekerasan seksual dalam lingkup keluarga.
Pemerintah, lanjut Arifah, saat ini telah melakukan berbagai langkah pencegahan, termasuk melalui PP Tunas Nomor 17 Tahun 2025 yang mengatur penggunaan media sosial bagi anak di bawah umur.

dalam Pembangunan Ketahanan Keluarga/ [Foto: Istimewa]
Sementara itu, Ketua Presidium Badan Musyawarah Islam Wanita Indonesia (BMIWI), Iin Kendedes, menyambut positif pelaksanaan Rakernas Alppind. Ia mengatakan perempuan memiliki posisi penting dalam membangun keluarga yang tangguh di tengah perkembangan zaman.
“Untuk keluarga yang maju kita harus membangun ketahanan keluarga yang kuat di era digital ini. Keluarga tangguh muncul dari wanita yang tangguh sebagai pendidik anak untuk kemajuan bangsa,” kata Iin Kendedes.
Ia menilai perempuan Indonesia perlu semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi dan media online agar dapat memberikan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Ketua Umum Alppind, Atifah Hasan, mengatakan Rakernas kali ini menjadi momentum strategis untuk menyusun arah program organisasi di tengah transformasi digital yang terus berkembang.
“Perempuan memiliki peran penting dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, mental, dan ancaman digital sehingga perlu terus diperkuat sebagai tiang peradaban bangsa,” ujar Atifah Hasan.
Menurutnya, Alppind diharapkan dapat menjadi agen perubahan melalui penguatan kapasitas perempuan dalam menghadapi berbagai persoalan sosial, mulai dari ekonomi hingga kesehatan masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Panitia Rakernas Alppind, Hani Hendayani, melaporkan bahwa kegiatan yang berlangsung pada 8 hingga 10 Mei 2026 itu dihadiri 24 perwakilan dari total 32 delegasi pengurus daerah Alppind.
“Kami sangat mengapresiasi kehadiran perwakilan pengurus daerah yang telah berupaya hadir dalam acara penting ini di tengah kondisi saat ini,” kata Hani Hendayani.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...