HOLOPIS.COM, JAKARTA – Hantavirus menjadi salah satu penyakit zoonosis yang mendapat perhatian dunia karena dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga gagal ginjal berat pada manusia. Virus ini dibawa oleh hewan pengerat dan bisa menular melalui kontak dengan urin, kotoran, maupun air liur tikus yang terinfeksi.
Organisasi kesehatan dunia atau WHO menyebut infeksi hantavirus memang tergolong jarang. Namun, memiliki risiko kematian tinggi pada sejumlah kasus tertentu.
Di kawasan Amerika, virus ini diketahui dapat memicu sindrom kardiopulmoner hantavirus atau Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), penyakit serius yang menyerang paru-paru dan jantung.
“Di Amerika, hantavirus dapat menyebabkan sindrom kardiopulmoner hantavirus (HCPS), penyakit pernapasan parah, dengan tingkat kematian kasus hingga 50%,” demikian dikutip dari WHO, Jumat, (8/5/2026).
Sementara itu, di kawasan Eropa dan Asia, hantavirus lebih sering menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) atau demam berdarah dengan sindrom ginjal yang menyerang pembuluh darah dan fungsi ginjal.
Dipicu Hewan Pengerat
Hantavirus termasuk virus zoonosis yang secara alami hidup pada hewan pengerat. Virus tersebut masuk dalam famili Hantaviridae dan ordo Bunyavirales.
Setiap jenis hantavirus biasanya memiliki spesies tikus reservoir tertentu yang membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit.
Meski banyak jenis hantavirus ditemukan di berbagai negara, hanya sebagian kecil yang diketahui bisa menginfeksi manusia.
Salah satu yang paling dikenal adalah Virus Andes di Kawasan Amerika Selatan. Virus ini menjadi perhatian karena merupakan satu-satunya hantavirus yang diketahui dapat menular antar manusia dalam kontak dekat dan berkepanjangan.
“Virus Andes, yang ditemukan di Amerika Selatan, adalah hantavirus yang saat ini diketahui dan penularannya dari manusia ke manusia terbatas telah didokumentasikan.”
Kasus penularan antar manusia tersebut dilaporkan terjadi terutama di Argentina dan Chili. Hal itu khususnya di antara anggota keluarga atau pasangan intim.
Secara global, infeksi hantavirus diperkirakan mencapai 10 ribu hingga lebih dari 100 ribu kasus setiap tahun. Asia dan Eropa menjadi wilayah dengan beban kasus terbesar.
Di Asia Timur, terutama China dan Korea Selatan, kasus HFRS masih dilaporkan dalam jumlah ribuan setiap tahun. Meskipun tren kasus disebut mengalami penurunan dalam beberapa dekade terakhir.
Sementara di Eropa, ribuan kasus juga ditemukan setiap tahun, terutama di wilayah utara dan tengah yang menjadi habitat virus Puumala.
Di benua Amerika, kasus HCPS memang lebih sedikit dibanding Asia dan Eropa. Namun, tingkat fatalitasnya jauh lebih tinggi.
“HCPS memiliki tingkat kematian kasus yang tinggi, umumnya antara 20% dan 40%, menjadikannya penyakit yang menjadi perhatian utama kesehatan masyarakat,” jelas WHO.
Penularan hantavirus paling umum terjadi ketika manusia menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi urin, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi.
Nah, aktivitas itu disebut bisa meningkatkan risiko paparan virus, seperti membersihkan ruangan tertutup yang lama tidak digunakan. Lalu, bekerja di area pertanian dan kehutanan, hingga tinggal di lingkungan dengan populasi tikus tinggi.
“Penularan hantavirus ke manusia terjadi melalui kontak dengan urin, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi yang terkontaminasi.”
Selain itu, gigitan tikus juga dapat menjadi jalur penularan meski kasusnya lebih jarang ditemukan.
Gejala hantavirus pada manusia biasanya muncul antara satu hingga delapan minggu setelah terpapar virus. Pada tahap awal, penderita umumnya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, hingga sakit perut.
Pada kasus HCPS, kondisi bisa berkembang cepat menjadi batuk berat, sesak napas, penumpukan cairan di paru-paru, hingga syok. Adapun pada HFRS, pasien dapat mengalami tekanan darah rendah, gangguan perdarahan, dan gagal ginjal.
“Diagnosis dini infeksi hantavirus dapat menjadi tantangan karena gejala awal umum terjadi pada penyakit demam atau pernapasan lainnya,” lanjut keterangan WHO.
Karena gejalanya mirip influenza, COVID-19, pneumonia virus, leptospirosis, hingga demam berdarah, banyak kasus hantavirus sulit dikenali pada fase awal.
Hingga kini belum tersedia pengobatan khusus yang bisa menyembuhkan infeksi hantavirus. Penanganan medis lebih difokuskan pada terapi suportif, pemantauan ketat kondisi pasien, serta penanganan komplikasi pernapasan, jantung, dan ginjal.
Pencegahan menjadi langkah paling penting untuk menekan risiko infeksi, terutama dengan mengurangi kontak manusia dengan hewan pengerat dan menjaga kebersihan lingkungan.


