JAKARTA, HOLOPIS.COM – Homeless Media ramai disorot usai netizen membongkar jejak pertemuan dengan Gibran, Cak Imin, hingga Qodari di media sosial.
Polemik mengenai “Homeless Media” kembali memanas di media sosial.
Kali ini, sorotan datang dari netizen yang membongkar jejak pertemuan sejumlah media alternatif yang tergabung dalam Indonesia New Media Forum dengan beberapa tokoh penting pemerintahan, mulai dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hingga pengamat politik M. Qodari.
Isu ini ramai setelah akun Twitter/X @jilulisme mengunggah kritik tajam terhadap kelompok media digital tersebut.
Unggahan itu viral dan memicu perdebatan panjang mengenai independensi media alternatif yang selama ini dikenal dekat dengan isu publik dan kerap tampil kritis terhadap pemerintah.
Dalam unggahan yang beredar luas, akun tersebut mengaku kecewa karena menilai sejumlah Homeless Media hanya memanfaatkan isu keresahan publik demi mendulang engagement di media sosial.
“Kalian selalu riding the wave isu yang lagi jadi keresahan publik,” tulis akun tersebut.
Narasi itu langsung menyedot perhatian warganet.
Banyak netizen kemudian mulai mengaitkan sejumlah pertemuan yang dilakukan anggota Indonesia New Media Forum dengan pejabat negara dalam beberapa bulan terakhir.
Pertemuan pertama yang ramai dibahas disebut terjadi pada 10 Maret 2026, ketika sejumlah perwakilan Homeless Media bertemu dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Lalu pada 14 April 2026, muncul lagi pertemuan dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin.
Terbaru, pada 6 Mei 2026, publik kembali dibuat heboh setelah beredar kabar adanya pertemuan dengan M. Qodari yang kini menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Kepresidenan.
Momen tersebut langsung memicu spekulasi liar di media sosial.
Banyak netizen mempertanyakan apakah kedekatan tersebut hanya sebatas komunikasi biasa atau sudah mengarah pada upaya membangun relasi politik tertentu.
“Kalau memang independen, kenapa intens ketemu pejabat?” tulis salah satu pengguna X.
Tak sedikit pula yang menilai momentum pertemuan itu menjadi kontradiktif dengan citra Homeless Media yang selama ini dianggap mewakili suara publik dan generasi muda di media sosial.
Istilah Homeless Media sendiri merujuk pada media digital yang tidak memiliki situs web utama dan sepenuhnya beroperasi melalui platform media sosial seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan X.
Model distribusi konten semacam ini membuat mereka tumbuh cepat karena lebih dekat dengan tren viral dan algoritma media sosial.
Beberapa akun bahkan dikenal memiliki jutaan pengikut dan sering menjadi rujukan informasi anak muda.
Karena itulah, isu kedekatan dengan pejabat pemerintah langsung memicu reaksi keras dari audiens mereka sendiri.
Dalam unggahan viral tersebut, akun @jilulisme juga menyoroti dugaan adanya pitching gagasan kepada pejabat.
Narasi itu membuat sebagian netizen curiga bahwa hubungan antara Homeless Media dan pemerintah tidak lagi sekadar komunikasi biasa.
“Mau diklarifikasi kayak apa pun, pertemuan ini jadi bukti,” tulis akun tersebut.
Meski demikian, hingga kini belum ada bukti adanya pelanggaran hukum ataupun kerja sama politik tertentu antara Homeless Media dengan pemerintah.
Sejumlah pihak yang disebut dalam polemik itu juga telah membantah tudingan bahwa mereka menjadi buzzer pemerintah.
Beberapa pendukung media alternatif justru menilai publik terlalu cepat menghakimi.
Mereka beranggapan bahwa pertemuan dengan pejabat merupakan hal lumrah dalam dunia media dan komunikasi publik.
“Media ketemu narasumber itu biasa,” tulis salah satu netizen lainnya.
Namun kritik tetap bermunculan karena sebagian audiens merasa ekspektasi mereka terhadap media alternatif mulai runtuh.
Apalagi sebelumnya sejumlah akun tersebut dikenal aktif mengkritik kebijakan pemerintah dan vokal dalam berbagai isu sosial.
Kini, polemik Homeless Media berubah menjadi perdebatan lebih luas mengenai independensi media digital di era algoritma.
Banyak pihak mempertanyakan apakah media alternatif masih bisa sepenuhnya netral ketika mulai memiliki akses dekat dengan lingkar kekuasaan.
Di sisi lain, ada juga yang menilai fenomena ini menunjukkan bahwa pemerintah mulai serius mendekati media sosial sebagai alat komunikasi politik baru yang pengaruhnya sangat besar terhadap opini publik.
Hingga saat ini, topik “Homeless Media”, “Indonesia New Media Forum”, “Qodari”, dan “Gibran” masih ramai diperbincangkan di media sosial.
Publik pun kini menunggu penjelasan lebih lanjut dari pihak-pihak terkait mengenai tujuan pertemuan tersebut dan sejauh mana hubungan mereka dengan pemerintah.


