SETIAP Hari Pendidikan Nasional, kita kembali diingatkan bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa. Namun pertanyaannya, apakah negara sudah benar-benar memperlakukan pendidikan sebagai prioritas utama?
Sejarah dunia dan peradaban Islam memberikan jawaban tegas, bangsa besar selalu dimulai dari penghormatan terhadap guru.
Menengok sejarah Jepang, Bangkit karena Menghitung Guru, Bukan Tentara
Setelah tragedi Bom Atom Hiroshima dan Bom Atom Nagasaki, Jepang berada di titik nol. Namun di tengah kehancuran itu, Kaisar Hirohito justru menanyakan berapa jumlah guru yang masih hidup.
Pertanyaan ini bukan sekadar simbol, tetapi arah kebijakan. Jepang memahami bahwa membangun kembali bangsa bukan dimulai dari senjata, tetapi dari ruang kelas. Dari sanalah kebangkitan dimulai dan dunia melihat hasilnya hari ini.
Jauh sebelum konsep modern tentang pendidikan berkembang, Islam telah menempatkan guru pada posisi yang sangat tinggi. Bukan hanya dihormati secara moral, tetapi juga dimuliakan secara ekonomi.
Pada masa Umar bin Khattab, seorang guru menerima gaji sekitar lima belas dinar emas setiap bulan. Jika dikonversikan ke nilai hari ini, lima belas dinar itu setara dengan sekitar enam puluh tiga gram emas. Dengan harga emas saat ini yang berkisar satu juta dua ratus ribu rupiah per gram, maka nilainya mencapai kurang lebih tujuh puluh lima juta rupiah setiap bulan.
Di masa Harun al-Rasyid, perhatian terhadap guru bahkan lebih besar. Seorang pendidik bisa memperoleh dua ribu dinar dalam setahun. Jika dikonversikan, dua ribu dinar setara dengan sekitar delapan ribu lima ratus gram emas. Dengan harga emas yang sama, jumlah itu mencapai lebih dari sepuluh miliar rupiah per tahun.
Angka-angka ini bukan sekadar hitungan ekonomi, tetapi cerminan bagaimana negara menempatkan ilmu sebagai fondasi peradaban.
Realitas Hari Ini: Guru Masih Berjuang
Bandingkan dengan kondisi saat ini. Tidak sedikit guru terutama honorer yang menerima penghasilan jauh dari kata layak. Ada yang hanya mendapatkan ratusan ribu rupiah per bulan, bahkan di bawah satu juta rupiah.
Di satu sisi, mereka dituntut mencetak generasi unggul. Di sisi lain, mereka sendiri harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Ini bukan sekadar ironi, tetapi menunjukkan bahwa pendidikan belum benar-benar menjadi prioritas utama.
Guru bukan sekadar pengajar, tetapi pembentuk karakter. Mereka menentukan arah berpikir, moral, dan kualitas generasi.
Jika guru tidak dihargai, maka dampaknya akan terasa dalam jangka panjang. Generasi yang lahir dari sistem yang lemah akan kesulitan bersaing, bahkan untuk sekadar mempertahankan identitasnya.
Selain itu, pendidikan dianggap sebagai beban anggaran. Padahal, investasi pada guru adalah investasi pada masa depan.
Guru yang sejahtera akan mengajar dengan fokus dan kualitas. Dari sanalah lahir sumber daya manusia yang produktif dan inovatif. Sebaliknya, jika pendidikan diabaikan, biaya sosial dan ekonomi yang muncul justru jauh lebih besar.
Dalam perspektif Islam, menjaga akal (hifzh al-‘aql) merupakan salah satu tujuan utama syariat. Pendidikan adalah jalan utama untuk mewujudkannya.
Artinya, memperhatikan guru bukan sekadar kebijakan teknis, tetapi bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan. Mengabaikan pendidikan sama saja dengan membuka pintu kerusakan yang lebih luas.
Jika kita jujur, masalah utama bukan pada keterbatasan anggaran, tetapi pada keberanian menentukan prioritas.
Sejarah Jepang menunjukkan bahwa kebangkitan dimulai dari guru. Peradaban Islam membuktikan bahwa kemajuan lahir dari penghormatan terhadap ilmu. Namun jika hari ini guru masih harus berjuang dengan penghasilan yang jauh dari layak, maka sulit berharap pendidikan menjadi fondasi yang kuat.
Negara harus memilih, menjadikan pendidikan sebagai pusat pembangunan, atau terus menjadikannya pelengkap.
Semua bermula dari pendidikan. Dan pendidikan tidak akan berdiri tanpa guru.
Jika negara benar-benar ingin maju, maka langkah pertama adalah memastikan guru hidup layak, dihormati, dan diberdayakan.
Karena pada akhirnya, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh proyek besar, tetapi oleh seberapa serius negara membangun manusia melalui pendidikan.

