HOLOPIS.COM, JAKARTA – Thailand berhasil mencetak ‘terobosan’ penting. Negara Asia Tenggara itu berhasil dapat izin dari Iran untuk melintaskan kapal tanker minyaknya melalui Selat Hormuz, jalur paling krusial distribusi energi dunia.
Kesepakatan ini jadi titik balik setelah sebelumnya pengiriman energi melalui jalur tersebut praktis tersendat ekstrem.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, mengonfirmasi kesepakatan telah dicapai dengan Iran.
“Sebuah kesepakatan telah tercapai untuk memungkinkan kapal tanker minyak Thailand untuk transit dengan aman melalui Selat Hormuz,” kata Anutin dalam konferensi pers dikutip dari Channel News Asia, pada Minggu, (29/3/2026).
Menurutnya, keputusan ini menjadi kabar penting bagi stabilitas energi nasional Thailand yang sebelumnya sempat terguncang.
“Dengan adanya kesepakatan ini, ada keyakinan yang lebih besar bahwa gangguan seperti yang terlihat pada awal Maret tidak akan terulang,” jelas Anutin.
Situasi di Selat Hormuz sempat memburuk drastis sejak pecahnya konflik senjata Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran. Pasukan Iran perketat pengawasan dan secara efektif memperlambat lalu lintas kapal hingga hampir berhenti total.
Data dari platform pelacakan maritim menunjukkan penurunan ekstrem yakni pengiriman komoditas anjlok hingga 95 persen
yang terjadi dalam periode 1–26 Maret hingga ribuan kapal tertahan di kawasan Teluk.
Kondisi ini menjadikan Hormuz sebagai ‘bottleneck’ paling berbahaya bagi rantai pasok energi global. Sebagai kawasan yang sangat bergantung pada impor energi, Asia Tenggara langsung merasakan dampaknya.
Lebih dari 80 persen minyak mentah dan LNG yang menuju Asia harus melewati Selat Hormuz. Ketika jalur ini terganggu maka berimbas terhadap pasokan bahan bakar di Thailand. Lalu, harga energi ikut bergejolak yang berpengaruh terhadap antrean panjang di SPBU Thailand meningkat tajam karena kelangkaan BBM.
Pemerintah Thailand pun terpaksa mengambil langkah cepat untuk mencegah krisis meluas. “Pemerintah akan terus beradaptasi dengan situasi yang berkembang dan menyesuaikan langkah-langkah untuk meminimalkan dampak pada masyarakat,” ujar Anutin.
Pengetatan Iran
Ketegangan di kawasan bukan sekadar isu politik, tetapi sudah masuk fase berbahaya. Awal bulan Maret, kapal kargo Thailand sempat diserang militer Iran yang memicu tiga awak dilaporkan hilang. Serangan itu karena kapal Thailand melintas Selat Hormuz tanpa koordinasi dengan IRGC.
Adapun Keberhasilan Thailand itu menunjukkan bahwa akses Selat Hormuz kini bukan lagi soal kebebasan pelayaran, melainkan hasil negosiasi politik.
Iran memperlihatkan tak menutup jalur sepenuhnya. Namun, Teheran menerapkan seleksi ketat hanya memberi izin pada negara tertentu mengutamakan pihak yang dianggap “non-hostile”. Thailand berhasil masuk dalam kategori tersebut.
Sementara itu, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mempertegas kontrol mereka atas jalur laut tersebut.
IRGC menegaskan ada tiga kapal dipaksa berbalik arah. Sebab, akses ditutup bagi kapal yang terkait dengan “musuh” Iran
Sepanjang bulan Maret, setidaknya ada 24 kapal komersial mengalami serangan atau insiden termasuk 11 kapal tanker. Data itu dirilis oleh United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), lembaga keamanan maritim Angkatan Laut Inggris.

