40 Ribu Lansia Berangkat Haji 2026, Petugas Diminta Ekstra Sabar dan Empatik

0 Shares

Holopis.com, Jakarta — Sebanyak 40 ribu lansia siap berhaji 2026, petugas diminta ekstra sabar, empatik, dan fokus memberi pelayanan maksimal tanpa diskriminasi.

Penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi mulai memasuki fase krusial.

- Advertisement -

Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI resmi menggerakkan ribuan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) untuk melayani jemaah Indonesia, termasuk lebih dari 40 ribu jemaah lanjut usia (lansia) yang akan diberangkatkan tahun ini.

Di baliknya, ada tantangan besar yang harus dihadapi petugas di lapangan.

- Advertisement -

Mulai dari kondisi fisik jemaah, kebutuhan layanan khusus, hingga pendekatan komunikasi yang harus lebih sabar dan empatik.

Pelantikan PPIH Embarkasi se-Indonesia yang digelar di Asrama Haji Surabaya pada Jumat (17/4/2026) menjadi penanda dimulainya kesiapan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf menegaskan bahwa peran petugas bukan sekadar administratif, melainkan representasi langsung kehadiran negara di mata jemaah.

“Embarkasi adalah titik pertama jemaah merasakan pelayanan negara. Jadi di sinilah wajah kita diuji,” ujar Irfan dalam sambutannya.

Ia menekankan, pelayanan harus berbasis data yang akurat, mulai dari dokumen perjalanan, pra-manifest, hingga penempatan jemaah.

Selain itu, layanan kesehatan juga menjadi fokus utama, terutama bagi kelompok lansia dan rentan.

Prioritas Utama

Berdasarkan data Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemenhaj per 15 April 2026, jumlah jemaah lansia yang akan berangkat mencapai lebih dari 40 ribu orang.

Mereka merupakan jemaah berusia di atas 65 tahun, yang secara umum memiliki kebutuhan layanan berbeda dibanding jemaah usia produktif.

Selain itu, komposisi jemaah Indonesia tahun ini didominasi kelompok usia 41–64 tahun.

Dari sisi pendidikan, mayoritas merupakan lulusan sekolah dasar dengan jumlah mencapai 55.217 orang.

Sementara dari segi pekerjaan, kelompok ibu rumah tangga mendominasi dengan 52.717 orang.

Data ini menunjukkan bahwa karakter jemaah Indonesia sangat beragam.

Kondisi tersebut menuntut pendekatan pelayanan yang tidak bisa disamaratakan.

“Lansia, penyandang disabilitas, perempuan, dan kelompok rentan lainnya harus jadi perhatian utama. Bukan pelengkap,” tegas Irfan.

Menurutnya, petugas haji harus mampu menghadirkan pelayanan yang ramah, inklusif, dan bebas diskriminasi.

Ia juga mengingatkan agar tidak ada penyalahgunaan wewenang di lapangan.

Siap Fisik dan Mental

Di sisi lain, Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mengingatkan bahwa tugas sebagai petugas haji adalah misi suci, bukan sekadar pekerjaan.

Dalam pelepasan 363 petugas PPIH Daerah Kerja (Daker) Madinah dan Bandara di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Dahnil menekankan pentingnya kesiapan fisik dan rohani.

“Ini bukan hanya tugas administratif. Ini ibadah. Kita melayani tamu-tamu Allah yang sudah berjuang keras untuk bisa berangkat,” ujarnya.

Ia menambahkan, jemaah haji Indonesia telah melalui proses panjang untuk mencapai istithaah atau kemampuan berhaji.

Karena itu, pelayanan yang diberikan harus maksimal, penuh empati, dan tanpa keluhan.

“Petugas harus kuat secara fisik, tapi juga matang secara emosi. Apalagi menghadapi lansia yang butuh perhatian ekstra,” katanya.

Tantangan Lapangan

Mengawal puluhan ribu lansia bukan perkara mudah.

Dalam praktiknya, petugas akan menghadapi berbagai situasi, mulai dari jemaah yang mudah lelah, risiko penyakit kambuhan, hingga kendala komunikasi.

Selain itu, pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi yang melibatkan mobilitas tinggi, seperti saat wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga lempar jumrah di Mina menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah lansia.

Untuk itu, Kemenhaj telah menyiapkan sejumlah skema pelayanan, termasuk murur dan tanazul.

Skema ini memungkinkan jemaah lansia mendapatkan kemudahan dalam menjalankan rangkaian ibadah tanpa harus mengikuti seluruh rute yang berat secara fisik.

Tak hanya itu, pemerintah juga menegaskan pentingnya transparansi dalam pelaksanaan dam atau denda/tebusan ibadah.

Seluruh proses harus melalui jalur resmi Pemerintah Arab Saudi, yakni Proyek Adahi.

Pendekatan Empatik

Dalam konteks pelayanan, pendekatan empatik menjadi kunci utama.

Petugas diminta tidak hanya menjalankan tugas secara teknis, tetapi juga memahami kondisi psikologis jemaah.

Banyak jemaah lansia yang berangkat dengan harapan besar, bahkan menganggap haji sebagai perjalanan spiritual terakhir dalam hidup mereka.

Kondisi ini membuat mereka lebih sensitif dan membutuhkan perhatian lebih.

“Profil jemaah kita beragam. Karena itu, petugas harus adaptif dan responsif,” ujar Dahnil.

Ia menambahkan, keberhasilan penyelenggaraan haji tidak hanya diukur dari kelancaran teknis, tetapi juga dari kepuasan jemaah terhadap pelayanan yang diberikan.

Ramah Lansia

Pemerintah menargetkan penyelenggaraan haji 2026 menjadi salah satu yang terbaik dalam sejarah Indonesia, khususnya dalam pelayanan jemaah lansia.

Upaya ini sejalan dengan konsep haji ramah lansia yang terus didorong dalam beberapa tahun terakhir.

Konsep tersebut menitikberatkan pada kemudahan akses, layanan kesehatan, serta pendampingan intensif bagi jemaah usia lanjut.

Dengan jumlah lansia yang mencapai lebih dari 40 ribu orang, keberhasilan program ini akan menjadi indikator penting kualitas pelayanan haji Indonesia.

Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan turut mendukung, terutama keluarga jemaah, dengan memastikan kesiapan fisik dan mental sebelum keberangkatan.

Meski berbagai persiapan telah dilakukan, tantangan di lapangan tetap tidak bisa dihindari.

Cuaca ekstrem di Arab Saudi, kepadatan jemaah dari berbagai negara, hingga faktor kesehatan menjadi variabel yang harus diantisipasi.

Namun dengan kesiapan petugas, dukungan sistem, serta komitmen pelayanan yang kuat, pemerintah optimistis penyelenggaraan haji 2026 dapat berjalan lancar.

“Pastikan pelayanan kita sukses. Jadikan haji tahun ini sebagai sejarah baru bagi Indonesia,” tutup Dahnil.

Dengan jumlah lansia yang signifikan dan kompleksitas pelayanan yang tinggi, ibadah haji tahun ini bukan hanya soal perjalanan spiritual, tapi juga ujian nyata bagi kualitas pelayanan publik Indonesia di panggung internasional.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru