Diperiksa KPK, Haji Her hingga Suryo Masuk Radar P2 DJBC Langgar Kepabeanan dan Cukai ?

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sejumlah nama pengusaha rokok termaktub dalam dokumen yang dibuat Kepala Seksi Intelijen Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kasi Intel DJBC), Orlando Hamonangan (ORL). Dalam dokumen itu diantaranya muncul nama pengusaha H. Khairul Umam atau Haji Her, pemilik rokok bermerek HS, Muhammad Suryo, pengusaha rokok Rochmawan, dan pengusaha rokok asal Pasuruan, Jawa Timur, Martinus Suparman.

Orlando Hamonangan alias Ocoy merupakan salah satu tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi importasi barang pada Ditjen Bea dan Cukai. Adapun Kepala Seksi Intelijen di Bea Cukai, yang berada di bawah Seksi Penindakan dan Penyidikan (P2), diketahui bertugas mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan informasi terkait pelanggaran kepabeanan dan cukai.

- Advertisement -

Kemudian data terkait hal itu dianalisis untuk diterbitkan Nota Hasil Intelijen (NHI). NHI Bea Cukai merupakan dokumen rahasia hasil analisis intelijen yang menunjukkan indikasi kuat pelanggaran kepabeanan dan atau cukai. NHI menjadi dasar bagi pejabat bea cukai untuk melakukan penindakan seperti pemeriksaan, penegahan, atau penyegelan barang/dokumen.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Penyidik KPK Achmad Taufik Husein mengatakan, nama-nama yang termaktub dalam dokumen yang dibuat Orlando Hamonangan ditemukan saat penyidik melakukan serangkaian penggeledahan, termasuk di kantor Pusat Bea dan Cukai. Temuan itu yang menjadi dasar penyidik memanggil dan memeriksa sejumlah pengusaha rokok.

- Advertisement -

“Jadi hasil penggeledahan yang kita temukan di proses penyidikan di kantor Ditjen Bea Cukai itu ada beberapa dokumen-dokumen yang dibuat oleh saudara Ocoy si tersangka ini, kemudian kita analisa-analisa di situlah ditemukan beberapa nama-nama pengusaha rokok sehingga kemudian kita lakukan pemanggilan beberapa pengusaha rokok termasuk tadi Martinus, Rohmawan, Suryo, termasuk Haji Her,” ungkap Taufik kepada wartawan, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, seperti dikutip Holopis.com, Senin (13/4/2026).

KPK meyakini keberadaan nama-nama dalam dokumen itu tak berdiri sendiri. Terlebih lembaga antirasuah juga telah menemukan dan menyita uang bernilai miliaran rupiah yang disimpan di safe house. Salah satu temuan di safe house di wilayah Ciputat, Tangerang Selatan berupa uang senilai Rp 5 miliar. Salah satu temuan uang itu menjadi alat bukti KPK menjerat Kepala Seksi Intelijen Cukai Direktorat Penindakan dan Penyidikan Budiman Bayu Prasojo (BBP).

Bayu juga diduga memerintahkan Pegawai P2 DJBC, Salisa Asmoaji (SA) untuk menerima dan mengelola uang dari para pengusaha. Perusahaan atau pengusaha-pengusaha rokok yang diduga memberikan sejumlah uang kepada oknum di Ditjen Bea dan Cukai didalami penyidik saat memeriksa Salisa Asmoaji beberapa waktu lalu.

“Nah kita perlu melakukan pemetaan dan identifikasi terhadap dokumen-dokumen yang ditemukan dari hasil penggeledahan itu sejauh mana itu akan mendukung dan membuktikan nanti kecukupan penerimaan suap yang dilakukan oleh pejabat Bea Cukai termasuk ketika memang ada pihak-pihak lain dari pengusaha-pengusaha rokok yang di luar tersangka yang kita lakukan sekarang. Jadi kita mau konfirmasi atas temuan-temuan dokumen penggeledahan hasil penggeledahan di kantor Bea Cukai,” terang Taufik.

Pada klaster pertama, selain Orlando Hamonangan, KPK juga menjerat pejabat DJBC lain. Yakni, Direktur Penindakan dan Penyidikan (P2) DJBC periode 2024-Januari 2026, Rizal dan Kepala Subdirektorat Intelijen P2 DJBC, Sisprian Subiaksono. Menurut Taufik, penetapan tersangka Budiman Bayu Prasojo merupakan pengembangan pengusutan Orlando Hamonangan Dkk.

“Jadi Bayu ini pecahan kalau si Ocoy yang sebelumnya itu adalah Kasubsi di bidang impor kemudian Bayu adalah Cukai. Nah dari pengembangan-pengembangan yang kita lakukan terus ini mungkin teman-teman mengikuti,” ucap Taufik.

Taufik berjanji pihaknya akan terus mengembangkan kasus ini. Kedepan bahkan lembaga antirasuah akan menambah tersangka baru, baik itu dari pihak Bea dan Cukai atau pihak swasta.

“Kita akan kembangkan terus insyaallah karena dari temuan-temuan yang kita temukan itu cukup menarik memang. Dan dalam waktu dekat juga kita akan kembangkan ke pihak-pihak pegawai BC yang lain. Jadi mohon bersabar dan kita tunggu sama-sama hasilnya,” tandas Taufik.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru