Hati-Hati yang Suka Ngopi! Harga Kopi Berpotensi Naik di Waktu Dekat

0 Shares

HOLOPIS.COM, Jakarta – Pecinta kopi perlu waspada, harga kopi di pasar domestik mulai menunjukkan sinyal kenaikan dalam waktu dekat seiring tekanan biaya energi dan gangguan rantai pasok global yang makin terasa.

Buat kamu yang nggak bisa sehari tanpa kopi, siap-siap sedikit waspada.

Pasalnya, meski harga kopi di pasar domestik Indonesia saat ini masih relatif stabil, ada sinyal kuat bahwa kenaikan bisa saja terjadi dalam waktu dekat.

Situasi ini muncul di tengah musim panen yang sedang berlangsung di sejumlah sentra produksi.

Sekilas terlihat aman-aman saja, tapi di balik itu, tekanan biaya energi dan gangguan logistik global mulai jadi “bayangan” yang nggak bisa diabaikan.

Di level petani hingga konsumen, harga kopi memang belum banyak berubah.

- Advertisement -

Hal ini juga dipengaruhi oleh harga BBM dan listrik dalam negeri yang masih stabil.

Wakil Ketua Umum I Specialty Coffee Association Indonesia (SCAI), Specialty Coffee Association Indonesia, Karya Elly, menyebutkan dampak gejolak global sejauh ini belum terlalu terasa di sektor hulu.

“Sejauh ini belum terasa di produksi karena harga BBM belum naik. Dampaknya ke margin petani dan pelaku usaha juga masih belum signifikan,” ujarnya.

Artinya, kondisi saat ini masih “tenang”, tapi bukan berarti tanpa risiko.

Di beberapa sentra produksi, kondisi harga juga masih bergerak normal.

Di Aceh misalnya, panen kopi arabika Gayo sudah mulai berjalan dengan harga yang relatif terjaga.

Namun, situasi berbeda terlihat di Lampung dan wilayah robusta Sumatera bagian selatan.

Menjelang panen April, harga justru sempat turun hingga sekitar 20 persen dibanding periode sebelumnya.

Meski belum terasa sekarang, pelaku industri mengingatkan bahwa risiko kenaikan harga tetap terbuka lebar.

Pemicu utamanya adalah biaya energi dan rantai distribusi global yang bisa terganggu kapan saja, terutama di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kalau harga minyak dunia naik dan berimbas ke biaya logistik, efek dominonya bisa panjang: dari ongkos kirim, produksi, sampai harga secangkir kopi di kafe.

“Kalau harga BBM dan gas naik, itu langsung memengaruhi logistik dan produksi. Dampaknya bisa ke harga segelas kopi,” kata Benny, pelaku usaha kedai kopi di Yogyakarta.

Menariknya, meski harga bahan baku naik dalam beberapa tahun terakhir, harga kopi di kedai masih relatif stabil.

Benny menyebutkan, harga segelas kopi belum berubah signifikan. Tapi di balik layar, biaya biji kopi sebenarnya sudah naik cukup tajam.

Sebagai gambaran, roasted bean robusta yang pada 2021 masih di kisaran Rp85.000 per kilogram, kini sudah naik menjadi sekitar Rp135.000.

Sementara arabika berada di rentang Rp150.000 hingga Rp250.000 per kilogram.

Kenaikan ini bukan hanya soal konflik geopolitik, tapi juga dipengaruhi faktor global lain seperti penurunan produksi di negara produsen besar seperti Brasil.

Di sisi lain, konsumsi kopi di Indonesia justru terus naik. Budaya ngopi yang makin kuat membuat jumlah kedai kopi tumbuh di berbagai kota.

Data menunjukkan konsumsi kopi nasional naik dari sekitar 4,45 juta kantong pada 2020–2021 menjadi sekitar 4,8 juta kantong pada 2025.

Produksi juga meningkat menjadi 10,9 juta kantong pada musim 2024–2025.

Tapi di balik pertumbuhan itu, ada tantangan yang ikut membesar yaitu ketergantungan pada energi dan distribusi global.

Jadi, buat para pecinta kopi, mungkin ini saat yang tepat untuk mulai “waspada ringan”.

Bukan panik, tapi siap-siap kalau harga kopi nanti ikut bergerak naik seiring dinamika global yang masih belum stabil.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU