HOLOPIS.COM, JAKARTA – Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mendesak Israel untuk mencabut perintah evakuasi di salah satu distrik di Beirut. Ia memperingatkan bahwa kebijakan tersebut dapat membahayakan nyawa ratusan pasien yang tengah menjalani perawatan.
Dalam pernyataannya di media sosial, Tedros menyebut perintah evakuasi dari Pasukan Pertahanan Israel menyasar wilayah Jnah di pinggiran selatan Beirut. Kawasan tersebut diketahui menjadi lokasi dua rumah sakit rujukan utama, yakni Rumah Sakit Universitas Rafik Hariri dan Rumah Sakit Al Zahraa.
Ia menegaskan bahwa tidak tersedia fasilitas medis alternatif untuk menampung pasien dari kedua rumah sakit tersebut. Total sekitar 450 pasien terdampak, termasuk 40 pasien yang berada di unit perawatan intensif.
“Tidak ada fasilitas medis alternatif yang tersedia, sehingga evakuasi secara operasional tidak memungkinkan,” ujar Tedros, dikutip Holopis.com (9/4).
Kondisi semakin sulit karena kedua rumah sakit tersebut saat ini beroperasi dalam kapasitas penuh. Selain merawat pasien umum, fasilitas tersebut juga menangani korban luka akibat serangan yang terjadi pada Rabu (8/4).
Wilayah yang terdampak perintah evakuasi juga mencakup kompleks kementerian kesehatan serta lima tempat penampungan pengungsi. Lebih dari 5.000 orang dilaporkan berada di lokasi tersebut.
Tedros pun menyerukan agar semua pihak memastikan perlindungan terhadap fasilitas kesehatan dan warga sipil. Ia menekankan pentingnya menjaga keselamatan tenaga medis dan pasien di tengah situasi konflik.

