HOLOPIS.COM, JAKARTA – WHO memperingatkan kantong nikotin rasa mojito hingga permen makin marak dan agresif menyasar anak muda lewat media sosial.
Tren penggunaan kantong nikotin dengan aneka rasa manis dan minuman kini menjadi sorotan dunia.
Mulai dari rasa bubble gum, permen, mint, hingga mojito dan bourbon, produk nikotin modern itu dinilai sengaja dirancang untuk menarik perhatian anak muda dan remaja.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization memperingatkan bahwa produk kantong nikotin kini berkembang sangat cepat secara global dan berpotensi memicu kecanduan sejak usia dini.
WHO bahkan menyebut generasi muda menjadi target utama pemasaran industri nikotin modern.
Dalam laporan terbarunya, WHO menilai produk kantong nikotin dipasarkan secara agresif melalui media sosial dan platform digital dengan strategi yang dianggap sangat dekat dengan gaya hidup anak muda masa kini.
Kepala Unit Inisiatif Bebas Tembakau WHO, Vinayak Prasad, mengatakan pemerintah di berbagai negara harus segera bergerak cepat sebelum tren ini makin sulit dikendalikan.
“Penggunaan kantong nikotin menyebar dengan cepat, sementara regulasi kesulitan mengejar perkembangannya. Pemerintah harus bertindak sekarang dengan perlindungan kuat yang berbasis bukti,” ujar Prasad seperti dikutip dari Euro News.
Kantong nikotin sendiri merupakan produk berbentuk kantong kecil yang digunakan melalui mulut.
Isinya bisa berupa nikotin sintetis maupun nikotin dari tembakau, dicampur dengan bahan tambahan seperti pemanis, bubuk selulosa, zat alkali, dan berbagai perasa.
Yang membuat WHO khawatir, produk ini kini hadir dalam rasa-rasa yang identik dengan makanan ringan atau minuman populer di kalangan remaja.
Di pasaran, produk tersebut dijual dengan rasa buah-buahan, bubble gum, permen, mint, hingga rasa minuman beralkohol seperti mojito, martini, bir, dan bourbon.
WHO menilai variasi rasa itu bukan sekadar inovasi produk biasa.
Menurut lembaga tersebut, strategi tersebut sengaja digunakan untuk meningkatkan daya tarik dan mendorong anak muda mencoba produk nikotin sejak dini.
“Aneka rasa dalam produk tembakau dan nikotin dapat meningkatkan daya tarik produk, mendorong eksperimen penggunaan sejak dini, serta memicu konsumsi berkepanjangan,” kata Prasad.
Lonjakan penggunaan produk ini juga terjadi sangat cepat.
WHO mencatat penjualan ritel global kantong nikotin pada 2024 mencapai 23,462 miliar unit atau naik lebih dari 50 persen dibanding tahun sebelumnya.
Sementara pada 2025, nilai pasar global produk kantong nikotin diperkirakan hampir menyentuh angka 6 hingga 7 miliar dolar AS dengan penjualan terbesar berada di kawasan Amerika Utara.
Data WHO juga menunjukkan peningkatan penggunaan yang signifikan di kalangan usia muda.
Di Amerika Serikat, penggunaan kantong nikotin melonjak tajam pada kelompok usia 13 hingga 20 tahun serta dewasa muda usia 21 hingga 27 tahun.
Bahkan, angkanya disebut meningkat hampir empat kali lipat dalam periode 2022 hingga 2025.
Fenomena serupa juga terjadi di Inggris. Pada kelompok usia 16 hingga 24 tahun, penggunaan kantong nikotin naik drastis dari 0,7 persen pada Januari 2022 menjadi 4 persen pada Maret 2025.
WHO menilai ledakan penggunaan tersebut tidak lepas dari strategi pemasaran yang dinilai sangat agresif dan menyasar langsung generasi muda.
Selain memanfaatkan influencer dan media sosial, produk kantong nikotin juga dipromosikan sebagai produk yang bisa digunakan secara diam-diam tanpa mudah diketahui orang tua, guru, maupun lingkungan sekitar.
Cara pemasaran seperti ini dinilai sangat berbahaya karena membuat produk nikotin terlihat modern, aman, dan bagian dari gaya hidup kekinian.
Padahal, WHO menegaskan nikotin tetap merupakan zat adiktif yang bisa menyebabkan ketergantungan serius.
WHO juga menyoroti lemahnya regulasi di banyak negara.
Menurut laporan tersebut, kantong nikotin sering kali berada di area abu-abu hukum sehingga tidak mendapatkan pengawasan ketat seperti produk rokok atau tembakau lainnya.
Akibatnya, produk tersebut bisa dipasarkan lebih bebas, termasuk menggunakan kemasan warna-warni dan rasa yang menarik bagi remaja.
Karena itu, WHO mendesak seluruh pemerintah dunia menerapkan aturan yang sama terhadap semua produk nikotin, termasuk kantong nikotin modern.
WHO juga meminta adanya pelarangan tambahan rasa tertentu serta larangan total terhadap iklan, promosi, dan pemasaran produk nikotin yang menyasar anak-anak dan kaum muda.
Peringatan WHO ini menjadi alarm serius di tengah meningkatnya tren produk nikotin alternatif yang makin populer di berbagai negara, termasuk di kalangan generasi muda yang sebelumnya tidak pernah merokok.
Jika tidak diawasi ketat, produk dengan rasa manis dan kemasan menarik ini dikhawatirkan bisa menjadi pintu masuk baru kecanduan nikotin pada usia remaja.


