HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran. Ia menyebut akan menyerang infrastruktur sipil, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, jika Selat Hormuz tidak dibuka sesuai tenggat yang ditetapkan. Ancaman tersebut disampaikan melalui unggahan di platform Truth Social pada Minggu (5/4). Dalam pernyataannya, Trump kembali menekan Iran agar segera membuka jalur strategis tersebut.
Donald Trump juga menggunakan kata-kata kotor, bahkan mengungkit nama Allah dengan mengucapkan kalimat ‘Praise be to Allah’ atau bisa diartikan dalam Bahasa Arab sebagai ‘Alhamdulillah’.
“Selasa akan menjadi hari pembangkit listrik dan hari jembatan, semuanya terjadi sekaligus di Iran. Tidak akan ada yang seperti ini! Buka Selat itu dasar orang gila, atau kalian akan hidup dalam neraka — lihat saja nanti! Praise be to Allah,” tulis Trump, dikutip Holopis.com, (5/4).
Sebelumnya, pada 26 Maret, Trump menetapkan tenggat waktu selama 10 hari bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting dalam distribusi energi global yang sempat terhenti sejak serangan awal AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Meski melontarkan ancaman, Trump juga menyebut bahwa negosiasi antara AS dan Iran masih berlangsung. Ia mengklaim kedua pihak berpeluang mencapai kesepakatan sebelum batas waktu yang ditentukan. Di sisi lain, Iran merespons keras pernyataan tersebut. Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai ancaman Trump sebagai tindakan yang berpotensi melanggar hukum internasional.
“Sekali lagi, presiden AS secara terbuka mengancam akan menghancurkan infrastruktur yang penting bagi kelangsungan hidup sipil di Iran,” ujar perwakilan Iran.
Pihak Iran juga mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak. Mereka menilai ancaman terhadap infrastruktur sipil dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
“Komunitas internasional dan seluruh negara memiliki kewajiban hukum untuk mencegah tindakan kejahatan perang seperti ini. Mereka harus bertindak sekarang. Besok sudah terlambat,” lanjutnya.

Sementara itu, pejabat kantor presiden Iran, Seyyed Mehdi Tabatabaei, menyatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz hanya akan dilakukan setelah adanya pembayaran kompensasi atas kerusakan akibat konflik.
Ia menyebut kompensasi tersebut akan diwujudkan dalam bentuk biaya transit melalui skema hukum baru. Kebijakan ini disebut sejalan dengan rencana Iran untuk mengatur ulang sistem penggunaan Selat Hormuz pascakonflik.
Ketegangan antara kedua negara terus meningkat sejak konflik pecah pada akhir Februari. Iran menegaskan tidak akan menghentikan eskalasi jika infrastruktur negaranya menjadi target serangan.
Di sisi lain, pejabat AS juga beberapa kali mengeluarkan pernyataan keras. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan sempat mengancam akan membawa Iran “kembali ke zaman batu” jika tidak memenuhi tuntutan Washington.



