HOLOPIS.COM, JAKARTA – Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan membuka kembali Selat Hormuz. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) justru menegaskan jalur strategis tersebut akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan yang diajukan Teheran.
Salah satu tuntutan utama Iran adalah pemberian kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan selama perang. Teheran juga meminta sejumlah persyaratan lain dipenuhi sebelum akses pelayaran di salah satu jalur energi terpenting dunia tersebut kembali dibuka.
Sikap Iran ini membuat situasi di kawasan semakin rumit. Penutupan Selat Hormuz telah mengganggu jalur perdagangan energi, memicu gejolak pasar, sekaligus mendorong kenaikan harga komoditas.
Bagi Iran, persoalan tersebut bukan sekadar mengenai akses pelayaran. Teheran menegaskan ingin tetap memiliki kendali atas Selat Hormuz setelah perang berakhir, termasuk menerapkan tarif bagi kapal-kapal yang melintas.
IRGC bahkan menyebut kawasan tersebut kini dipandang sebagai bagian dari medan perang.
“Strategi kami adalah mempertahankan blokade sampai musuh menerima seluruh persyaratan kami. Selat ini sekarang benar-benar menjadi medan perang bagi kami dan bukan sekadar jalur air,” demikian dikatakan Korps Garda Revolusi Islam Iran dikutip , Minggu (9/8).
Iran Ajukan Sejumlah Syarat
Sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran sebelumnya disampaikan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Di antaranya penghentian perang di seluruh front, pencabutan blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran, serta penghapusan sanksi.
Iran juga meminta aset-asetnya yang dibekukan dikembalikan serta menuntut kompensasi atas kerusakan yang terjadi selama perang.
Tuntutan tersebut disebut memiliki keterkaitan dengan kesepakatan yang sebelumnya dibahas pada Juni. Dalam kesepakatan itu terdapat pula rencana pembentukan dana rekonstruksi Iran senilai US$300 miliar.
Penutupan Selat Hormuz sendiri telah memberikan dampak besar terhadap perekonomian global. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama pengiriman energi dunia, sehingga gangguan terhadap aktivitas pelayaran dapat memengaruhi pasokan dan harga minyak.
Di tengah tekanan tersebut, Presiden AS Donald Trump justru mengaku tidak ingin terburu-buru dalam menghadapi Iran. Ia menilai kondisi ekonomi Teheran yang sedang tertekan dapat memberikan keuntungan bagi Washington dalam proses negosiasi.
“Kami bersikap tenang dalam menghadapinya,” demikian dikatakan Trump dalam wawancara dikutip Holopis.com, Minggu (9/8).
Trump menyebut komunikasi dengan Iran saat ini masih berlangsung secara terbatas. Menurutnya, Amerika Serikat dapat menunggu sembari melihat perkembangan kondisi ekonomi Iran.
“Kami hanya melakukan negosiasi secara terbatas dengan mereka. Kami hanya mengawasi Iran dengan inflasi yang tinggi dan fakta bahwa mereka tidak punya uang,” demikian dikatakan Trump dikutip Holopis.com, Minggu (9/8).



