HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kebijakan militer Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dalam konflik Iran kini mulai jadi bumerang. Kepercayaan publik terhadap Trump anjlok tajam, menyentuh titik terendah di tengah meningkatnya penolakan masyarakat terhadap perang dan tekanan ekonomi.
Mengutip laporan Daily Beast, Kamis, (26/1/2026), dari hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa strategi agresif Washington justru memicu ketidakpuasan luas di dalam negeri Paman Sam.
Merujuk survei Reuters/Ipsos yang dilakukan pada periode 20–23 Maret 2026 terhadap 1.272 responden masyarakat usia dewasa AS, menunjukkan hanya 36 persen yang menyetujui kinerja Trump.
Angka ini turun signifikan dari 40 persen pada pekan sebelumnya. Survei itu memiliki margin kesalahan sekitar 3 persen. Penurunan cepat ini menjadi sinyal kuat melemahnya kepercayaan publik AS terhadap Trump dalam waktu singkat.
Tolak Perang Iran
Penolakan publik terhadap kebijakan perang Iran juga semakin menguat. Survei yang sama menunjukkan hanya 35 persen warga yang mendukung serangan militer AS, turun dari 37 persen sebelumnya. Sebaliknya, 61 persen responden menyatakan tidak setuju dengan langkah tersebut.
Bahkan, persepsi keamanan nasional ikut terdampak: Hanya 26% percaya perang membuat AS lebih aman. Lalu, sekitar 25% menilai justru membuat AS kurang aman. Dengan data itu memperlihatkan kekhawatiran publik terhadap dampak jangka panjang konflik.
Harga Energi Naik
Konflik dengan Iran juga berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, terutama melalui kenaikan harga minyak dan gas. Kondisi ini memperparah kekhawatiran publik soal biaya hidup yang sudah tinggi.
Perang yang awalnya dimaksudkan sebagai strategi geopolitik kini justru dilihat sebagai beban tambahan bagi rakyat.
Selain perang, faktor ekonomi menjadi penyebab utama anjloknya popularitas Trump. Dalam survei NBC News, sebanyak 48 persen pemilih menyebut inflasi dan biaya hidup sebagai isu paling penting.
Namun, penilaian terhadap kinerja pemerintah dalam isu ini sangat negatif. Rinciannya sebagai berikut: 62 persen tidak puas dengan penanganan inflasi.
Sementara, hanya 29 persen menyetujui kebijakan ekonomi. Bahkan hanya 25 persen puas terhadap penanganan biaya hidup
Angka-angka ini menjadi yang terburuk sepanjang masa kepemimpinan Trump. Penurunan kepercayaan ini menjadi sinyal bahaya bagi Trump dan Partai Republik jelang pemilu paruh waktu 2026.
Isu biaya hidup diperkirakan akan menjadi faktor penentu utama dalam pilihan pemilih. Adapun kebijakan perang berpotensi memperburuk citra pemerintah.
Meski Trump masih memiliki basis pendukung loyal, tekanan dari pemilih independen dan kelas menengah semakin kuat.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...